Pergerakan rupiah sepanjang pekan lalu ibarat roller coaster. Meski akhirnya ditutup dengan catatan hijau tipis, perjalanannya tak mulus. Secara akumulasi, mata uang kita menguat 0,20 persen terhadap dolar AS. Tapi jangan senang dulu.
Kalau dilihat dari hari ke hari, justru ada pelemahan. Pada penutupan Jumat (30/1/2026), rupiah di pasar spot merosot 0,19 persen ke level Rp16.786 per dolar. Kurs referensi Jisdor BI juga ikut melemah, meski sangat tipis, 0,05 persen ke posisi Rp16.796.
Jadi, cerita pelemahan harian dan penguatan mingguan terjadi bersamaan. Menarik, bukan? Namun begitu, sentimen pasar domestik sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. IHSG anjlok tajam. Ditambah lagi, ada gelombang mundurnya sejumlah pimpinan kunci di BEI dan OJK. Dinamika ini bikin investor asing ciut nyali.
Alhasil, capital outflow alias arus modal keluar pun tak terhindarkan.
Bank Indonesia mencatat angka yang cukup signifikan. Pada pekan keempat Januari 2026, terjadi aliran modal keluar sebesar Rp12,55 triliun. Rinciannya diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso.
Meski pekan lalu gelap, secara tahun berjalan masih ada secercah cahaya. Sejak awal tahun hingga 29 Januari, modal asing masih mencatatkan net buy. Masuk Rp4,84 triliun di pasar saham dan Rp6,18 triliun di SRBI. Jadi, aksi jual pekan lalu mungkin hanya koreksi sesaat, atau tanda kehati-hatian yang ekstrem.
Artikel Terkait
Prabowo di Davos: Dari Kestabilan Ekonomi hingga Prabowonomics
Peta Jalan Semikonduktor Indonesia Dicanangkan, Impor Rp 77 Triliun Jadi Pemicu
Rosan Roeslani Buka Peluang Investor Global Kuasai Saham BEI
Danantara Buka Peluang Jadi Pemegang Saham BEI, Tapi Masih Tunggu Proses Demutualisasi