Siak diguncang insiden yang cukup mengerikan, tepatnya di sebuah bangunan cagar budaya. Tangsi Belanda, situs peninggalan kolonial yang biasa ramai dikunjungi, tiba-tiba menjadi lokasi musibah. Lantai duanya ambruk ketika sedang dipenuhi rombongan anak-anak sekolah dasar. Belasan siswa terjatuh ke bawah dan mengalami luka-luka.
Menurut sejumlah saksi, kejadian itu berlangsung cepat dan mendadak. Rombongan dari SDIT Baitul Ridho itu sedang asyik mengeksplorasi sejarah tempat itu, didampingi beberapa guru. Mereka berdiri di lantai dua yang terbuat dari papan kayu, mencoba membayangkan suasana masa lalu. Tiba-tiba, kayu-kayu itu berderak lalu ambrol.
“Kami langsung jatuh,” ujar seorang guru yang enggan disebut namanya.
“Suara gemeretuk keras, lalu semua ambruk. Saya berusaha melindungi siswa yang dekat dengan saya, tapi kecepatannya luar biasa.”
Ketinggiannya sekitar empat meter. Jatuh ke lantai dasar yang keras, ditimpa reruntuhan papan dan debu. Suasana pun langsung panik. Jeritan dan tangisan memenuhi ruangan yang sebelumnya penuh canda tawa anak-anak.
Akibatnya, puluhan siswa mengalami luka-luka. Beberapa ada yang cedera cukup serius. Dengan segera, korban dievakuasi menggunakan ambulans dan bahkan bantuan kendaraan warga yang kebetulan lewat. Mereka dibawa ke puskesmas terdekat untuk pertolongan pertama.
Namun begitu, tidak semua bisa ditangani di sana. Beberapa anak yang kondisinya lebih parah harus dirujuk ke RSUD Siak. Mereka membutuhkan penanganan lebih intensif, termasuk pemeriksaan rontgen untuk memastikan ada tidaknya patah tulang.
Pasca insiden, reaksi pihak berwenang cukup cepat. Akses menuju Tangsi Belanda langsung ditutup total untuk sementara waktu. Garis polisi dipasang mengelilingi area, sementara tim gabungan dari kepolisian dan Dinas Kebudayaan mulai turun tangan menyelidiki penyebab pasti keruntuhan.
Penutupan ini bukan tanpa alasan. Tujuannya jelas: audit menyeluruh terhadap struktur bangunan. Mereka tak ingin ada korban jiwa berikutnya di masa depan. Bagaimanapun, Tangsi Belanda selama ini jadi destinasi favorit studi tur pelajar se-Riau. Tempatnya memang sarat cerita, tapi keamanannya kini dipertanyakan.
Di sisi lain, musibah ini menyisakan pertanyaan besar tentang pemeliharaan cagar budaya. Bangunan tua butuh perhatian ekstra, apalagi jika rutin didatangi pengunjung. Eksplorasi sejarah memang penting, tapi keselamatan pengunjung jelas harus jadi prioritas utama.
Artikel Terkait
Polemik Ikan Sapu-Sapu di Sungai Sa’dan: Pemda Toraja Utara Belum Temukan Bukti, Ahli Dorong Pendekatan Lingkungan
Anggota DPR: Nasib 1,6 Juta Guru Honorer Masih Jauh dari Layak, Negara Dinilai Abaikan Hak Konstitusional
Polisi Tangkap Empat Pemuda Dalang Aksi Brutal Geng Motor di Makassar
PGR Sulsel Resmi Kantongi SKT dari Kemenkum, Targetkan Ikut Pemilu 2029