Lantas, bagaimana prospek ke depan? Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, punya prediksi yang tidak terlalu optimis untuk pembukaan pasar Senin. Tekanan masih akan ada. Faktornya ganda. Dari dalam negeri, sentimen negatif tadi masih membayangi. Dari luar, dunia dihadapkan pada ketidakpastian politik di AS menyangkut siapa penerus pimpinan The Fed, plus ketegangan geopolitik AS-Iran yang belum reda.
Ia memperkirakan rentang pergerakan rupiah akan berada di kisaran Rp16.780 sampai Rp16.810 per dolar AS.
Di sisi lain, BI tentu tidak tinggal diam. Langkah antisipasi terus dijalankan. Mereka mengandalkan penguatan pengelolaan cadangan devisa dan memainkan berbagai kebijakan makroprudensial. Intinya, semua lini dikerahkan untuk meredam gejolak yang berlebihan.
Ibrahim menilai langkah-langkah BI ini krusial. Apalagi di tengah tingginya imbal hasil obligasi AS dan dolar yang masih perkasa.
Harapannya jelas. Sinergi antara pemerintah dan BI harus terus diperkuat. Tujuannya, mengembalikan kepercayaan investor global. Terutama setelah guncangan di tubuh pasar modal kita sendiri. Perombakan besar di jajaran pimpinannya harus diikuti dengan perbaikan tata kelola yang konkret dan terlihat. Kalau tidak, rupiah bisa terus terombang-ambing di antara sentimen lokal dan badai global.
Artikel Terkait
Beras Premium Indonesia Siap Temani Jemaah Haji di Tanah Suci
Menkeu Purbaya Dorong Dana Pensiun dan Asuransi Masuk ke Saham LQ45
Rupiah Tersenyum Tipis, Tapi Modal Asing Kabur Rp12,5 Triliun
Shutdown AS Kembali Terjadi, Tapi Dampaknya Tak Separah Sebelumnya