Idul Fitri Momentum Perkuat Solidaritas dan Seruan Keadilan Sistemik

- Sabtu, 21 Maret 2026 | 06:00 WIB
Idul Fitri Momentum Perkuat Solidaritas dan Seruan Keadilan Sistemik

Ramadan telah usai. Kini, nuansa syukur dan sukacita Idul Fitri 1447 H menyelimuti umat Islam di mana-mana. Sebulan penuh kita menahan lapar dan dahaga, tapi lebih dari itu, kita berlatih mengendalikan diri. Targetnya satu: menjadi pribadi yang lebih bertakwa.

Nah, di hari kemenangan inilah semua proses itu dirayakan. Idul Fitri adalah momen untuk kembali ke fitrah, menjadi bersih, membuang jauh-jauh rasa dendam dan iri hati. Ini tentang menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri.

Di sisi lain, Lebaran juga punya dimensi sosial yang kuat. Ini momentum untuk mempererat silaturahmi, tradisi saling memaafkan dengan keluarga, teman, bahkan tetangga. Berbagi kebahagiaan jadi cara kita mengokohkan solidaritas sebagai satu bangsa.

Takwa yang kita raih selama Ramadan, kata banyak ulama, jangan berhenti di diri sendiri. Ia harus memancar keluar, terlihat nyata dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

Maknanya, Idul Fitri bukan cuma soal kemenangan pribadi. Ini tentang bagaimana kita jadi lebih peka terhadap sekitar. Misalnya, peduli pada tetangga yang mungkin sedang kesulitan.

Bantuan sekecil apa pun sebungkus makanan, sekadar menyapa itu adalah wujud nyata ketakwaan. Bagi yang menerima, bantuan itu bisa meringankan beban dan membuatnya lebih bersyukur.

Pada akhirnya, Idul Fitri adalah kemenangan spiritual sekaligus kemenangan kemanusiaan. Harapannya, orang yang terbantu tadi akan tergerak untuk menebar kebaikan pada orang lain lagi. Begitu seterusnya. Lingkaran kepedulian ini yang harus kita jaga agar terus berputar, menguatkan ikatan sosial dari tingkat paling kecil hingga yang lebih luas.

Namun begitu, kita perlu waspada. Jangan sampai lingkaran indah ini putus begitu masa mudik berakhir atau kesibukan rutin menghampiri. Solidaritas, sebagai cerminan takwa, harus tetap hidup di tengah hiruk-pikuk dan tekanan ekonomi sehari-hari.

Ilustrasi Hari Raya Idulfitri. Foto: Freepik.

Seruan ini tentu bukan hanya untuk masyarakat biasa. Para pemegang kebijakan, penguasa, dan penentu arah bangsa punya tanggung jawab lebih besar. Mereka harus meneguhkan semangat kepedulian ini dalam setiap kebijakan yang dibuat.

Kita tidak bisa hanya mengandalkan kesalehan individu. Jaring pengaman sosial dari negara itu mutlak. Kenyataannya, saat ekonomi sulit, orang akan fokus pada bertahan hidup. Narasi kepedulian harus ditopang oleh sistem ekonomi yang adil. Tanpa itu, empati dan solidaritas hanyalah nilai moral yang rapuh, mudah pecah.

Negara harus hadir dan serius melayani. Misalnya, dengan memastikan akses modal yang terjangkau bagi usaha kecil atau menetapkan upah yang layak. Kebaikan individu di hari Lebaran sifatnya hanya sementara. Ia tak akan mampu menahan laju inflasi atau tekanan ekonomi yang sistemik.

Selain ekonomi, sistem politik dan hukum juga wajib berdiri di atas prinsip keadilan. Bayangkan, jika sistem ekonomi adalah mesin dan kepedulian adalah bahan bakarnya, maka politik dan hukum adalah kerangka dan pemandunya.

Sistem politik yang adil akan mengarahkan anggaran negara untuk benar-benar melindungi kaum rentan. Dari lingkaran kepedulian di tingkat RT/RW, semangat ini bisa naik menjadi kebijakan nasional yang berpihak.

Sementara itu, sistem hukum yang berkeadilan akan memberi rasa aman dan semangat bagi masyarakat untuk saling membantu. Modal sosial akan hancur jika orang merasa sia-sia berbuat baik di tengah sistem yang curang.

Akhir kata, selamat merayakan Idul Fitri. Selamat atas kemenangan yang telah diraih.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar