Festival Rakik-Rakik Maninjau Tetap Digelar, Jadi Obat Trauma Pascabencana

- Sabtu, 21 Maret 2026 | 00:15 WIB
Festival Rakik-Rakik Maninjau Tetap Digelar, Jadi Obat Trauma Pascabencana

Malam takbiran di Danau Maninjau tahun ini terasa berbeda. Bayangan bencana banjir bandang dan longsor November lalu masih membekas. Tapi justru di tengah proses pemulihan itu, warga tepian danau memilih untuk tetap melanjutkan tradisi. Festival rakik-rakik atau rakit hias pun digelar, Jumat malam, menyambut Idulfitri.

Suasana tetap meriah, meski tak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, lima jorong di Nagari Maninjau, Kabupaten Agam, turun masing-masing satu rakit. Tahun ini, hanya dua yang mampu tampil: Jorong Kubu Baru Panyinggahan dan Jorong Pasa.

Yudha Anugrah Viligo, Wali Jorong Kubu Baru Panyinggahan, mengakui kondisi pascabencana memang membatasi. Tapi bagi mereka, festival ini bukan sekadar pertunjukan.

"Kalau biasa, karena Nagari Maninjau ini ada 5 jorong, tiap jorong satu rakik. Tapi kenapa jorong tahun ini tetap turun, semoga ini setelah bencana jadi 'obat', selain menjaga tradisi," ujar Yudha.

Ungkapan 'obat' itu rupanya mewakili perasaan banyak orang. Sejak pukul sembilan malam, warga sudah berdatangan. Mereka sepakat, tradisi ini membantu mengobati trauma. Melestarikan budaya sekaligus memulihkan semangat kebersamaan yang sempat tercabik.

"Kalau tidak ada pula ini, malam takbiran rasanya sepi juga. Rasanya seperti tidak hari raya, semakin terasa kami di tempat bencana," tutur Riani, warga yang setia menyaksikan tiap tahun.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar