Peta Jalan Semikonduktor Indonesia Dicanangkan, Impor Rp 77 Triliun Jadi Pemicu

- Minggu, 01 Februari 2026 | 11:54 WIB
Peta Jalan Semikonduktor Indonesia Dicanangkan, Impor Rp 77 Triliun Jadi Pemicu

Pemerintah, lewat Kementerian Perindustrian, akhirnya merilis peta jalan khusus untuk industri semikonduktor nasional. Intinya, Indonesia ingin punya peran lebih signifikan dalam rantai pasok global. Ini bukan ambisi kecil, tapi langkah yang dianggap perlu.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan, kebutuhan akan chip terus melonjak. Pemicunya jelas: aktivitas industri hilir yang kian tinggi. Semikonduktor kini jadi tulang punggung bagi banyak sektor, mulai dari elektronik, otomotif, telekomunikasi, hingga energi dan transformasi digital yang masif.

“Roadmap pengembangan semikonduktor nasional menegaskan komitmen pemerintah untuk tidak hanya mengejar investasi, tetapi juga menciptakan nilai tambah nasional, memperkuat kemandirian teknologi, serta memastikan Indonesia terintegrasi secara berkelanjutan dalam ekosistem semikonduktor dunia,” tegas Agus dalam pernyataannya, Minggu (1/2).

Untuk mewujudkannya, rencananya bakal diperkuat empat pilar utama. Keempatnya meliputi material, desain, fabrikasi (front end), serta perakitan, pengujian, dan pengepakan (back end). Semua itu tentu butuh dukungan serius, mulai dari pengembangan SDM, riset, infrastruktur, sampai kebijakan yang kondusif.

Nah, sebagai langkah nyata, Kemenperin bersama PT Hartono Istana Teknologi (Polytron) dan para pakar dari 13 universitas meluncurkan Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC). Inisiatif ini menandai titik awal yang konkret.

Agus menekankan, pengembangan industri ini tak bisa instan. Pendekatannya harus bertahap dan realistis. Itu sebabnya, fokus utama di tahap awal adalah membangun talenta dan kemampuan desain chip.

“Pengembangan industri semikonduktor nasional tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan ditempuh melalui pendekatan bertahap dan realistis dengan menempatkan pengembangan talenta dan desain chip sebagai langkah utama pada tahap awal,” ujarnya.

Sebenarnya, Indonesia punya modal awal yang cukup. Di tanah air sudah ada fasilitas perakitan dan pengujian yang terintegrasi dalam rantai nilai global. Ada juga perusahaan desain integrated circuit, ditambah basis industri hilir seperti EMS, OEM, dan otomotif yang mapan.

Lihat saja data produksinya. Sektor elektronik menghasilkan 30 hingga 60 juta unit ponsel per tahun. Sementara kebutuhan laptop diproyeksikan mencapai 1,57 juta unit pada 2026. Angka yang tidak kecil.

Di jalur otomotif, produksi kendaraan bermotor pada 2025 tercatat 803.867 unit, termasuk listrik dan hybrid. Dan perlu diingat, kendaraan elektrifikasi butuh chip hingga tiga kali lipat lebih banyak dibanding mobil konvensional.

Namun begitu, ada tantangan besar yang mengintip: ketergantungan impor. Hingga November 2025, nilai impor semikonduktor Indonesia mencapai USD 4,87 miliar. Agus melihat angka ini sebagai sinyal peringatan untuk ketahanan industri nasional.

“Tingginya ketergantungan impor semikonduktor menjadi sinyal penting bagi ketahanan industri nasional. Kondisi ini perlu direspons melalui penguatan ekosistem dalam negeri, khususnya pada aspek desain chip dan pengembangan kekayaan intelektual, sebagai fondasi awal kemandirian teknologi,” imbuhnya.

Jadi, jalan sudah digariskan. Modal dasar ada. Tantangannya pun jelas. Sekarang, tinggal eksekusi dan konsistensi yang akan menentukan apakah peta jalan ini benar-benar membawa Indonesia ke tujuan.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler