Di ruang pertemuan Wisma Danantara, Jakarta, Sabtu malam lalu, Rosan Roeslani berbicara soal masa depan Bursa Efek Indonesia. CEO Danantara itu membuka kemungkinan bahwa institusi keuangan global suatu saat nanti bisa ikut memiliki saham BEI. Syaratnya satu: proses demutualisasi bursa harus rampung terlebih dahulu.
Lalu, apa itu demutualisasi? Intinya, ini adalah perubahan status BEI. Dari yang semula organisasi tertutup milik perusahaan sekuritas anggotanya, menjadi perusahaan terbuka yang kepemilikannya bisa meluas ke publik. Perubahan struktur ini dianggap penting untuk membuka ruang yang lebih lebar.
“Kita ikuti dulu proses demutualisasinya,” ujar Rosan.
“Nanti, setelah itu baru kita lihat besarannya, persentase sahamnya. Dan tentunya bukan hanya Danantara, institusi keuangan dunia lainnya pun akan dibuka. Nanti kita lihat yang terbaik seperti apa,” tambahnya, menegaskan bahwa peluang itu terbuka luas.
Sebelumnya, Rosan memang sudah menyiratkan ketertarikan Danantara untuk masuk sebagai pemegang saham BEI pasca-demutualisasi. Namun begitu, langkah konkretnya masih menunggu proses hukum yang sedang berjalan.
Artikel Terkait
Rupiah Tersenyum Tipis, Tapi Modal Asing Kabur Rp12,5 Triliun
Shutdown AS Kembali Terjadi, Tapi Dampaknya Tak Separah Sebelumnya
Prabowo di Davos: Dari Kestabilan Ekonomi hingga Prabowonomics
Peta Jalan Semikonduktor Indonesia Dicanangkan, Impor Rp 77 Triliun Jadi Pemicu