Rosan Roeslani Buka Peluang Investor Global Kuasai Saham BEI

- Minggu, 01 Februari 2026 | 11:42 WIB
Rosan Roeslani Buka Peluang Investor Global Kuasai Saham BEI

Di ruang pertemuan Wisma Danantara, Jakarta, Sabtu malam lalu, Rosan Roeslani berbicara soal masa depan Bursa Efek Indonesia. CEO Danantara itu membuka kemungkinan bahwa institusi keuangan global suatu saat nanti bisa ikut memiliki saham BEI. Syaratnya satu: proses demutualisasi bursa harus rampung terlebih dahulu.

Lalu, apa itu demutualisasi? Intinya, ini adalah perubahan status BEI. Dari yang semula organisasi tertutup milik perusahaan sekuritas anggotanya, menjadi perusahaan terbuka yang kepemilikannya bisa meluas ke publik. Perubahan struktur ini dianggap penting untuk membuka ruang yang lebih lebar.

“Kita ikuti dulu proses demutualisasinya,” ujar Rosan.

“Nanti, setelah itu baru kita lihat besarannya, persentase sahamnya. Dan tentunya bukan hanya Danantara, institusi keuangan dunia lainnya pun akan dibuka. Nanti kita lihat yang terbaik seperti apa,” tambahnya, menegaskan bahwa peluang itu terbuka luas.

Sebelumnya, Rosan memang sudah menyiratkan ketertarikan Danantara untuk masuk sebagai pemegang saham BEI pasca-demutualisasi. Namun begitu, langkah konkretnya masih menunggu proses hukum yang sedang berjalan.

Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengonfirmasi bahwa demutualisasi ini akan diiringi penyesuaian regulasi. Mulai dari aturan di tingkat undang-undang hingga revisi Peraturan OJK. Semua perlu disiapkan untuk mendukung transisi yang mulus.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto punya pandangan yang lebih strategis. Menurutnya, langkah ini bukan sekadar perubahan kepemilikan.

“Demutualisasi bursa ini akan membuka investasi, termasuk dari Danantara dan agensi lainnya. Tahapannya sudah masuk dalam Undang-Undang P2SK, dan proses ini bisa dilanjutkan dengan bursa go public pada tahap berikutnya,” tegas Airlangga.

Jadi, demutualisasi ditempatkan sebagai bagian krusial dari penguatan tata kelola pasar modal. Sekaligus upaya menjaga kredibilitas Indonesia di mata investor global.

Agenda ini sendiri bukan muncul tiba-tiba. Proses demutualisasi BEI digulirkan sebagai respons atas tekanan pasar, terutama setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengubah metodologi penilaiannya terhadap Indonesia. Situasi itu mendorong percepatan reformasi, agar pasar modal kita tak ketinggalan kereta.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler