Di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, guncangan tercatat pada skala intensitas III Modified Mercalli Intensity (MMI). Getaran dirasakan nyata oleh warga di dalam rumah, dengan sensasi seakan-akan ada truk berat yang melintas.
Sementara itu, di Kota Tarakan, intensitas guncangan lebih rendah, yaitu skala II MMI. Pada skala ini, getaran umumnya hanya dirasakan oleh beberapa orang, dan benda-benda ringan yang digantung dapat terlihat bergoyang.
Penegasan Tidak Ada Potensi Tsunami
Setelah menganalisis seluruh parameter, BMKG memberikan penegasan yang menenangkan bagi masyarakat pesisir. Pemodelan yang komprehensif menunjukkan bahwa gempa dengan karakteristik seperti ini tidak berpotensi menghasilkan tsunami.
“Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” jelas pernyataan resmi dari institusi yang bertanggung jawab memantau aktivitas geofisika tersebut. Kepastian ini disampaikan untuk mencegah kepanikan dan menyebarnya informasi yang tidak akurat pascagempa.
Kejadian ini kembali mengingatkan akan kompleksnya dinamika lempeng tektonik di kawasan Asia Tenggara. Meski dampak langsung di wilayah Indonesia terbatas pada guncangan ringan, kecepatan dan kejelasan informasi dari lembaga berwenang menjadi krusial untuk menjaga kewaspadaan dan ketenangan publik.
Artikel Terkait
Korban Penyiraman Air Keras dari KontraS Desak Pengadilan Umum untuk Pelaku dari BAIS TNI
Slot Akui Superioritas PSG Usai Liverpool Tunduk 2-0 di Parc des Princes
Dua Bocah Tewas Tenggelam di Kolam Bekas Galian Ponorogo
Trump Usulkan Usaha Patungan dengan Iran untuk Pungutan di Selat Hormuz