Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih menggelayut, ada optimisme yang kuat mengenai ketahanan perekonomian nasional. Tantangan seperti ketegangan politik dan perang dagang memang masih ada, dan proteksionisme terutama dari AS diprediksi bakal berlanjut. Tapi, menurut sejumlah analis, Indonesia punya fondasi yang cukup solid untuk menghadapinya.
Konsumsi domestik yang kuat disebut-sebut sebagai penyangga utama. Ditambah lagi, program-program unggulan pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dinilai memberikan kontribusi nyata. Piter Abdullah, Ekonom sekaligus Policy and Program Director Lembaga Riset Prasasti, melihat fondasi ini cukup kokoh.
“Bisa lho. Jangankan 6 persen, lebih dari 6 persen pun bisa. Tapi apa yang akan kita kerjakan di tahun depan itu yang akan menentukan,”
Demikian penegasan Piter saat berbincang dengan media, Senin lalu. Dia bahkan berani melangkah lebih jauh. Menurutnya, jika semua program dijalankan dengan konsisten dan sungguh-sungguh, target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo untuk 2029 bukanlah hal yang mustahil.
“Tapi sekali lagi, programnya yang tepat dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, termasuk MBG dan Koperasi Merah Putih,” sebutnya.
Optimisme serupa, meski dengan angka yang sedikit lebih rendah, datang dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Meski APBN 2026 mematok target 5,4 persen, Purbaya merasa angka 6 persen tahun depan sangat mungkin tercapai.
“Tahun depan saya harapkan, saya perkirakan akan tumbuh lebih cepat lagi, mungkin di kisaran 6 persen. Jadi kelihatannya kalau kebijakan yang sekarang dijalankan terus dengan baik, kita berada di arah yang benar,”
katanya.
Dukungan juga datang dari sisi moneter. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan komitmen bank sentral untuk lebih 'all out' mendorong pertumbuhan di tahun depan.
“Tahun depan kami akan lebih all out lagi. Masih ada ruang penurunan suku bunga, tunggu. MBG, Koperasi Desa Merah Putih, Perumahan Rakyat, kami dukung. Sebagian SBN kami beli untuk membantu biaya bunga yang rendah,”
ujar Perry.
Dampak Nyata MBG dan Kopdes
Rupanya, kontribusi program-program itu bukan sekadar wacana. Data Badan Pusat Statistik (BPS) untuk kuartal III-2025 sudah menunjukkan jejaknya. Moh Edy Mahmud, Deputi BPS, menyebut MBG telah turut menopang pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,04 persen pada periode tersebut.
Dorongannya terasa di sektor riil. Pertanian, misalnya, tumbuh 6,51 persen didorong permintaan daging ayam dan telur. Sub-sektor tanaman pangan bahkan melonjak hampir 10 persen. Industri pengolahan makanan dan minuman ikut merespons dengan peningkatan produksi.
Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga tetap kuat. Yang menarik, geliatnya bahkan merambah ke ekonomi digital. Transaksi e-commerce tumbuh 6,19 persen secara kuartalan, didorong banyaknya pelaku usaha pangan UMKM yang memanfaatkan platform online untuk distribusi program MBG.
Mimpi 8 Persen dan Lapangan Kerja
Target pertumbuhan 8 persen yang kerap disampaikan Presiden Prabowo memang ambisius. Tapi keyakinannya punya dasar. Menurutnya, program seperti MBG bukan cuma soal gizi, tapi juga mesin pencipta lapangan kerja.
“Saya pikir 8 persen sangat mungkin dicapai. Seperti yang telah saya sampaikan, misalnya, bahkan dengan program makan gratis ini, kita menciptakan 1,5 juta lapangan kerja secara langsung,”
ungkap Prabowo dalam sebuah forum CEO global di Jakarta.
Logikanya sederhana: satu dapur MBG bisa menyerap sekitar 50 tenaga kerja dengan sistem shift. Belum lagi pelaku usaha lokal baru yang muncul di sekitarnya, masing-masing merekrut lima hingga 15 pekerja. Efek penggandanya diharapkan menguatkan ekonomi dari level desa.
“Dan itu belum termasuk (program) 81.000 koperasi, di situ kita hitung kita juga akan menciptakan setidaknya 15 lapangan kerja lagi,”
tambahnya.
Bagaimana Pandangan Lembaga Internasional?
Lembaga-lembaga dunia juga memandang positif, meski dengan angka yang lebih konservatif. IMF, dalam laporan Oktober lalu, menaikkan sedikit proyeksi pertumbuhan Indonesia menjadi 4,9 persen untuk 2025 dan 2026. Mereka menyebut revisi ini didasarkan pada anggaran terbaru dan kebijakan fiskal pemerintah.
Bank Dunia punya pandangan serupa. Dalam laporannya, mereka memproyeksikan pertumbuhan Indonesia di angka 4,8 persen untuk dua tahun yang sama. Carolyn Turk, Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste, menyoroti kekuatan kerangka kebijakan makroekonomi Indonesia yang berperan menarik investasi.
Jadi, meski angkanya berbeda-beda, nada dasarnya sama: optimis. Ekonomi Indonesia dilihat sedang berada di jalur yang tepat, dengan momentum yang perlu dijaga dan diperkuat pelaksanaan program-programnya. Tantangan global ada, tapi fondasi domestik dinilai cukup tangguh untuk menghadapinya.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020