Serda Hamdani bukan pendatang baru di bumi Cenderawasih. Ia sudah bertugas di Papua sejak 2024. Sebelumnya, pria ini punya rekam jejak di Batalyon 726 Bone dan pernah menjadi Babinsa di Kabupaten Soppeng. Kini, ia meninggalkan seorang istri dan dua anak yang masih sangat kecil.
Keluarga di Maros kini menunggu dengan hati berat. Mereka masih berkoordinasi dengan kesatuan almarhum untuk memastikan kapan jenazah akan tiba. Rencananya, Hamdani akan dimakamkan secara militer di tanah kelahirannya. Sebuah penghormatan terakhir untuk pengabdiannya pada negara.
Bagaimana kronologi serangannya?
Menurut sejumlah informasi, semuanya berawal dari rentetan tembakan. Kelompok bersenjata itu diduga memborbardir kendaraan milik subkontraktor yang kebetulan melintas di dekat pos. Tapi mereka tak berhenti di situ. Serangan kemudian dialihkan ke pos keamanan itu sendiri, dan dibakar habis.
Dari sebuah video amatir yang beredar, kondisi lokasi benar-benar memilukan. Bangunan pos itu nyaris rata dengan tanah, hanya menyisakan puing-puing hangus. Petugas yang datang lebih dulu sempat berjuang memadamkan bara sebelum akhirnya mengevakuasi jenazah korban.
Selain merenggut nyawa, aksi ini juga menimbulkan kerugian material. Pelaku dilaporkan melarikan sejumlah inventaris keamanan. Yang hilang antara lain satu pucuk Pistol G2 Combat, magazen, serta sepuluh butir amunisi kaliber 9 mm. Sampai berita ini diturunkan, operasi pengejaran masih terus dilakukan.
Artikel Terkait
KPK Periksa Dua Saksi Kasus Korupsi Restitusi Pajak Kalsel
Sampah Meluber di TPS 3R Pulogebang, Warga Khawatirkan Ancaman Penyakit
KPK Periksa Empat Saksi Kasus Pemerasan RPTKA di Malang
Presiden Iran Tegaskan: Gencatan Senjata dengan AS Bergantung pada Penghentian Serangan Israel ke Lebanon