Tim BKSDA Aceh kini telah diterjunkan untuk mendampingi keluarga almarhum. Namun begitu, pengecekan langsung ke lokasi kejadian masih ditunda. Mereka menunggu situasi benar-benar aman dan kondusif.
Di balik musibah ini, BKSDA mencatat sejumlah faktor pemicu. Sarana mitigasi konflik, seperti pagar listrik atau barrier, banyak yang rusak dan tak terawat. Itu satu masalah.
Di sisi lain, perubahan jalur jelajah gajah juga diduga kuat akibat bencana alam belakangan ini. Banjir dan tanah longsor mengubah lanskap, memaksa hewan besar itu mencari rute dan sumber makanan baru kadang terlalu dekat dengan kebun dan permukiman warga.
Wilayah Bener Meriah dan Aceh Tengah menjadi area yang kerap mengalami hal semacam ini.
Imbauannya jelas: masyarakat diminta untuk sementara menghindari area rawan konflik. Jangan coba-coba menghalau gajah sendiri.
Suasana di Desa Pantan Lah masih terasa berat. Sebuah nyawa melayang, lagi-lagi, dalam konflik yang seakan tak pernah usai antara manusia dan penghuni asli hutan Sumatera.
Artikel Terkait
Rakyat Iran Berkabung 40 Hari Gugurnya Ayatollah Khamenei di Tengah Gencatan Senjata
Unpad Buka 3.868 Kursi Jalur Mandiri 2026, Tanpa Kenaikan UKT
Hizbullah Kecam Serangan Israel di Lebanon, Korban Sipil Tembus Ratusan Jiwa
Polisi Segera Panggil Oknum Jaksa Diduga Ancam Satpam Pakai Senjata Api