Usai penandatanganan perjanjian, kedua pemimpin melanjutkan dialog dalam sebuah pertemuan tertutup yang berlangsung sekitar tiga puluh menit. Pertemuan lanjutan ini dinilai sebagai ruang untuk membahas berbagai isu strategis yang lebih mendalam, mengindikasikan tingkat keseriusan dari kedua pihak.
Teddy kembali menegaskan posisi unik Indonesia dalam kesempatan tersebut. "Jadi kemudian satu-satunya Kepala Negara yang melakukan bilateral dengan Presiden Trump itu salah satunya, dan satu-satunya adalah Presiden Prabowo," jelasnya. "Kemudian Presiden Prabowo dan Presiden Trump melaksanakan pertemuan, kurang lebih sekitar 30 menit," lanjutnya.
Meski rincian teknis dari perjanjian tarif belum diungkap sepenuhnya, pemerintah Indonesia menyimpan harapan positif terhadap hasilnya. Teddy menyampaikan optimisme bahwa pembicaraan ini akan membawa dampak positif bagi iklim perdagangan Indonesia.
"Tentunya banyak pembicaraan di sana, dan kita tunggu, mungkin dalam waktu dekat, yang sekarang 19 persen, ya mungkin ke depan akan menjadi lebih baik lagi untuk Indonesia, kita tunggu saja," ujarnya.
Langkah ini dipandang sebagai upaya diplomasi ekonomi yang signifikan, mencerminkan upaya Indonesia untuk secara aktif memperjuangkan kepentingan nasionalnya di panggung global. Keberhasilan mengadakan pertemuan eksklusif di tengah agenda internasional yang padat menunjukkan momentum dan prioritas dalam hubungan kedua negara.
Artikel Terkait
Kebakaran SPBE di Bekasi Tewaskan 4 Jiwa dan Hanguskan 19 Bangunan
BKKBN Jatim Gelar Rakorda, Soroti Capaian Penurunan Stunting dan TFR
KPK Dalami Dugaan Suap Importasi Tembakau Melibatkan Pengusaha Haji Her
Kejati DKI Geledah Ruang Pejabat Kementerian PU untuk Usut Dugaan Korupsi