Ketua Umum IGC periode 2023–2026, Ria Musiawan, menyatakan bahwa hampir enam tahun berkarya adalah momentum tepat untuk memperluas kolaborasi dengan pemerintah. "Salah satu prioritas kami adalah pengembangan Buku Tumpeng Indonesia sebagai National Gastronomy IP," katanya. Tak cuma itu, mereka juga mendorong penguatan kurasi untuk UMKM, pembuatan Gastronomy Creative Hub, hingga model pameran yang mengutamakan pengalaman.
Respons dari pemerintah pun tampak positif. Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif, Yuke Sri Rahayu, mengapresiasi konsistensi IGC. Ia menekankan, narasi yang kuat adalah kunci daya saing global.
"Banyak kuliner Nusantara punya potensi sebagai vegan-friendly, gluten-free, hingga healthy food,"
tutur Yuke. Jika dikemas dengan tepat, potensi itu jelas bisa mendongkrak nilai ekonomi dan omzet pelaku usaha.
Sebagai langkah nyata, tradisi pertumpengan diusulkan jadi proyek percontohan pengembangan IP gastronomi nasional. Harapannya, ini bisa jadi contoh bagaimana kekayaan budaya dikomersialisasikan tanpa mengikis nilai filosofinya. Audiensi ini, pada akhirnya, menandai sinergi yang makin erat antara pemerintah dan komunitas. Semua untuk satu tujuan: membangun ekosistem gastronomi berbasis IP dan menegaskan kuliner Nusantara sebagai identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi.
Artikel Terkait
PM Spanyol Serukan Penghentian Serangan terhadap Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon
Ledakan Diduga dari Pabrik di Sidoarjo Rusak Sejumlah Rumah Warga
PM Qatar Kecam Penargetan Infrastruktur Sipil di Tengah Eskalasi dengan Iran
KLH Jatuhkan Sanksi Administratif kepada 67 Perusahaan Pemicu Banjir di Tiga Provinsi