Jakarta. Tumpeng, nasi kerucut yang biasa hadir dalam perayaan penting, mungkin akan jadi lebih dari sekadar hidangan. Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, punya pandangan jauh ke depan. Ia mendorong agar gastronomi Indonesia dengan tumpeng sebagai salah satu pilar utamanya dikuatkan sebagai intellectual property (IP) nasional. Tujuannya jelas: menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus jadi instrumen soft power di panggung global.
Hal ini ia sampaikan saat menerima audiensi Indonesia Gastronomy Community (IGC) di Autograph Tower, Jakarta, Kamis lalu. Menurut Riefky, kekayaan budaya seperti tumpeng punya narasi dan diferensiasi yang kuat di tiap daerah. Itu modal berharga.
"Di Kementerian Ekonomi Kreatif, kami mendorong agar kekayaan budaya dapat menjadi IP yang bisa dikomersialisasikan dan memberi manfaat luas bagi masyarakat,"
ujar Teuku Riefky dalam keterangan tertulisnya.
Ia meyakini gastronomi bisa jadi mesin pertumbuhan baru. Alasannya sederhana: ia bertumpu pada budaya daerah yang karakternya kuat dan filosofinya dalam. Nah, di sinilah tumpeng dinilai punya peran sentral. Dengan storytelling yang mendalam, ia tak cuma jadi produk budaya, tapi juga alat diplomasi lunak. Filosofi tentang persatuan, syukur, dan harmoni yang melekat padanya bisa memperkuat citra Indonesia di mata internasional.
Di sisi lain, komunitas yang hadir dalam pertemuan itu sudah lebih dulu bergerak. IGC, yang berdiri sejak Juni 2020, memaparkan berbagai inisiatif mereka. Fokusnya pada pelestarian makanan-minuman Indonesia lewat riset, kurasi, hingga penguatan branding.
Ketua Umum IGC periode 2023–2026, Ria Musiawan, menyatakan bahwa hampir enam tahun berkarya adalah momentum tepat untuk memperluas kolaborasi dengan pemerintah. "Salah satu prioritas kami adalah pengembangan Buku Tumpeng Indonesia sebagai National Gastronomy IP," katanya. Tak cuma itu, mereka juga mendorong penguatan kurasi untuk UMKM, pembuatan Gastronomy Creative Hub, hingga model pameran yang mengutamakan pengalaman.
Respons dari pemerintah pun tampak positif. Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif, Yuke Sri Rahayu, mengapresiasi konsistensi IGC. Ia menekankan, narasi yang kuat adalah kunci daya saing global.
"Banyak kuliner Nusantara punya potensi sebagai vegan-friendly, gluten-free, hingga healthy food,"
tutur Yuke. Jika dikemas dengan tepat, potensi itu jelas bisa mendongkrak nilai ekonomi dan omzet pelaku usaha.
Sebagai langkah nyata, tradisi pertumpengan diusulkan jadi proyek percontohan pengembangan IP gastronomi nasional. Harapannya, ini bisa jadi contoh bagaimana kekayaan budaya dikomersialisasikan tanpa mengikis nilai filosofinya. Audiensi ini, pada akhirnya, menandai sinergi yang makin erat antara pemerintah dan komunitas. Semua untuk satu tujuan: membangun ekosistem gastronomi berbasis IP dan menegaskan kuliner Nusantara sebagai identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi.
Artikel Terkait
Kawasan Kota Tua Jakarta Tetap Buka Saat Ramadan 2026 dengan Penyesuaian Jam Operasional
Menteri Kebudayaan dan Dubes Yaman Bahas Kerja Sama Seni hingga Warisan Budaya
ART di Bogor Dilaporkan Dianiaya Majikan hingga Luka-luka
Ledakan Petasan Ilegal di Situbondo Tewaskan Satu Warga dan Rusak Belasan Rumah