Kemudian, mereka memutuskan pulang ke kampung halaman Badi di Lombok pada 2007, menyusul meninggalnya ayah Badi. Tak lama menetap, keluarga ini malah berangkat ke Sumatera untuk mencoba peruntungan bekerja di perkebunan sawit. Di sinilah anak kedua mereka lahir, tepatnya tahun 2008.
Barulah pada 2021, mereka kembali dan menetap di Lombok. Sementara itu, Badi mencari nafkah dengan bekerja di bidang ekspedisi yang menghubungkan Lombok dan Jawa.
Yang menarik, dari penelusuran pemerintah, anak-anak Norida ternyata mengenyam pendidikan formal. Anak pertamanya sempat SMP di Sumatera lalu lanjut SMA di SMA Negeri 2 Jonggat. Si bungsu sekolah di SMP Negeri 3 Jonggat kemudian melanjutkan ke SMK Negeri 1 Jonggat.
Prestasi akademis pun dicatat. Anak pertama Norida bahkan sempat diterima di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Mataram (Unram) pada 2024 dengan beasiswa Bidikmisi. Sayangnya, ia tak melanjutkan kuliahnya, diduga karena kondisi keluarga yang sudah retak.
Puncaknya, pernikahan mereka berakhir di pengadilan pada 24 Juni 2024. Perceraian itu dipicu oleh pernikahan kembali Badi dengan perempuan lain. Namun begitu, dalam proses hukum tersebut, Norida disebutkan menerima uang senilai Rp 20 juta dari mantan suaminya. Uang itu dimaksudkan untuk membantu biaya kepulangannya ke Malaysia.
Narasi yang beredar di media sosial memang menyentuh. Tapi dari penelusuran resmi, terlihat ada perbedaan versi yang cukup signifikan. Di satu sisi ada pengakuan pahit seorang istri, di sisi lain ada data perjalanan hidup keluarga yang dicatat oleh pemerintah daerah. Yang jelas, kisah ini telah menyita perhatian banyak orang di kedua negara.
Artikel Terkait
Polisi Buru Preman Diduga Aniaya Tuan Hajatan hingga Tewas di Purwakarta
Libur Panjang Paskah, 73 Ribu Kendaraan Padati Jalur Puncak Bogor
Konflik Timur Tengah Tekan Rupiah, Analis Soroti Peluang Obligasi dan Saham Domestik
Kopassus Berduka, Mayor Zulmi Gugur dalam Tugas Dikenang sebagai Teladan