Jakarta. Konflik di Timur Tengah kembali memanas. Menurut Steven Satya Yudha, Direktur Ashmore Asset Management, situasi ini jadi sentimen yang benar-benar menekan pasar keuangan global. Indonesia pun tak luput dari imbasnya, dengan tekanan terasa jelas pada nilai tukar Rupiah.
Ketidakpastiannya tinggi, terutama soal harga minyak mentah dunia yang berpotensi melambung. Ancaman inflasi itu mendorong para investor berlindung. Dana-dana pun mengalir deras ke instrumen safe haven, mencari tempat yang aman dari gejolak.
Tapi, jangan buru-buru pesimis. Steven punya pandangan lain. Di tengah awan gelap ini, dia justru melihat prospek menarik di pasar domestik. Obligasi pemerintah tenor 10 tahun, misalnya, yang menawarkan imbal hasil sekitar 6,85%. Valuasinya terlihat lebih menarik dibandingkan dengan surat utang Amerika Serikat.
Begitu pula di pasar saham. "Saham-saham blue chip saat ini sudah memiliki Price to Earnings Ratio (P/E Ratio) yang sangat murah," ujarnya.
Artikel Terkait
Politisi Desak Investigasi Tuntas Usai Ledakan Lukai Tiga Pasukan Perdamaian TNI di Lebanon Selatan
Pria Bakar Mantan Istri dan Mertua di Jepara Usai Ditolak Rujuk, Satu Tewas
Presiden Prabowo Berduka dan Kecam Gugurnya Tiga Prajurit TNI di Misi PBB Lebanon
Panglima TNI Perintahkan Prajurit UNIFIL Masuk Bunker Usai Serangan di Lebanon Selatan