Jobstreet Bongkar Modus Baru Penipuan Lowongan, Indonesia Jadi Sasaran Utama

- Senin, 24 November 2025 | 03:06 WIB
Jobstreet Bongkar Modus Baru Penipuan Lowongan, Indonesia Jadi Sasaran Utama
Ancaman Penipuan Lowongan Kerja di Indonesia

Indonesia ternyata menjadi pusat sasaran penipuan lowongan kerja di kawasan Asia Pasifik. Fakta ini diungkap oleh SEEK, induk perusahaan dari Jobstreet. Yang cukup mengejutkan, ada lima sektor pekerjaan di dalam negeri yang paling sering jadi sasaran empuk para penipu.

Peringkat pertama ditempati oleh sektor Administration & Office Support. Angkanya cukup tinggi, yaitu 29,36 persen dari total lowongan palsu yang terdeteksi. Menyusul kemudian, kategori Manufacturing, Transport & Logistics di posisi kedua dengan 21,06 persen. Lalu ada Retail & Consumer Products (12,23 persen), Trades & Services (7,98 persen), dan Hospitality & Tourism yang menyumbang 5,74 persen.

Operations Director Indonesia Jobstreet by SEEK, Willem Najoan, menyatakan keprihatinannya yang mendalam.

"Situasi Indonesia sebagai sasaran penipuan ini sangat mengkhawatirkan dan menunjukkan urgensi yang tinggi. Ini bukan cuma soal kerugian uang lagi, tapi sudah berkembang menjadi risiko keamanan serius. Job scam sekarang jadi pintu masuk bagi kejahatan terorganisir, seperti perdagangan orang, yang menyasar warga kita," ujarnya, dikutip pada Senin (24/11).

Nah, kalau kita lihat lebih detail, di sektor Administration & Office Support, posisi yang paling banyak dipalsukan adalah admin toko online, admin e-commerce, dan data entry. Sementara di bidang manufaktur dan logistik, yang jadi sasaran adalah lowongan untuk staff gudang.

Memang, porsi Indonesia dalam statistik penipuan ini terbilang besar. SEEK mencatat, 38 persen penipuan lowongan kerja di Asia Pasifik ternyata menyasar Indonesia. Angka ini yang tertinggi, jauh meninggalkan Filipina yang ada di peringkat kedua dengan 20 persen. Bahkan, kalau hanya melihat kawasan Asia saja, kontribusi Indonesia melonjak hingga 62 persen dari total kasus.

Yang bikin was-was, para pelaku penipuan ini ternyata punya strategi yang cukup cerdas dan berbeda-beda di tiap negara.

Mereka punya cara yang lain saat menargetkan korbannya di Australia dan Selandia Baru, dibandingkan dengan saat mereka beroperasi di enam negara Asia, termasuk Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Pola unik ini terungkap dari data yang dikumpulkan antara Juli 2024 hingga Juni 2025.

Tom Rhind, Head of Trust & Safety SEEK, memberikan pernyataannya.

"Kami mengamati para penipu ini semakin lihai. Mereka menyesuaikan pendekatan untuk setiap pasar, memilih jenis pekerjaan dan industri di mana para pencari kerja sedang dalam posisi paling rentan dan butuh kerja," jelas Tom.

Di Indonesia, modusnya pun semakin modern. Mereka sudah memanfaatkan kecanggihan AI. Caranya seringkali dengan menyamar sebagai pihak Jobstreet yang sah, lalu menghubungi calon korbannya lewat SMS atau media sosial.

Salah satu trik yang paling banyak beredar adalah tawaran kerja paruh waktu yang sepertinya mudah, seperti tugas memberikan like atau subscribe pada konten di media sosial. Hati-hati.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar