Yang bikin was-was, para pelaku penipuan ini ternyata punya strategi yang cukup cerdas dan berbeda-beda di tiap negara.
Mereka punya cara yang lain saat menargetkan korbannya di Australia dan Selandia Baru, dibandingkan dengan saat mereka beroperasi di enam negara Asia, termasuk Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Pola unik ini terungkap dari data yang dikumpulkan antara Juli 2024 hingga Juni 2025.
Tom Rhind, Head of Trust & Safety SEEK, memberikan pernyataannya.
"Kami mengamati para penipu ini semakin lihai. Mereka menyesuaikan pendekatan untuk setiap pasar, memilih jenis pekerjaan dan industri di mana para pencari kerja sedang dalam posisi paling rentan dan butuh kerja," jelas Tom.
Di Indonesia, modusnya pun semakin modern. Mereka sudah memanfaatkan kecanggihan AI. Caranya seringkali dengan menyamar sebagai pihak Jobstreet yang sah, lalu menghubungi calon korbannya lewat SMS atau media sosial.
Salah satu trik yang paling banyak beredar adalah tawaran kerja paruh waktu yang sepertinya mudah, seperti tugas memberikan like atau subscribe pada konten di media sosial. Hati-hati.
Artikel Terkait
Pizza Hut Indonesia Dirikan Anak Usaha Baru untuk Bisnis Roti dan Akomodasi
Menhub Prediksi Puncak Mudik Lebaran 2026 pada 18 Maret
Saham PP Properti Melonjak 10% Usai BEI Cabut Suspensi
BEI Bekukan Perdagangan Wanteg Sekuritas Terkait Kondisi Operasional