Memang, kalau diamati, pawai itu sukses menampilkan wajah Jakarta yang plural. Di satu sisi, tradisi Imlek dihormati dan dirayakan dengan khidmat. Di sisi lain, budaya lokal hadir bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari perayaan tersebut. Semuanya berbaur tanpa ada yang merasa terpinggirkan.
Acara yang berlangsung meriah itu, menurut Titiek, memberikan pesan penting. Keragaman bukanlah halangan, justru kekuatan. Ia berharap momentum seperti ini bisa terus dilestarikan, menjadi contoh bagi daerah lain. Bagaimanapun, harmoni dalam perbedaan itulah yang selama ini menjadi perekat bangsa ini.
Gelak tawa penonton, sorak-sorai, dan iringan musik yang rancak sepertinya mengamini hal tersebut. Perayaan bukan lagi tentang satu kelompok tertentu, melainkan milik bersama. Sebuah pertunjukan budaya yang sederhana, namun maknanya sangat dalam.
Artikel Terkait
Persib Kokoh di Puncak Usai Kalahkan Semen Padang 2-0 Berkat Dua Gol Ramon Tanque
Dua Tukang Parkir Ditangkap Usai Aniaya Marbot 90 Tahun di Bandar Lampung
Fenjiu, dari Kemenangan di San Francisco 1915 hingga Apresiasi Global Masa Kini
Forum Outlook Indonesia Bahas Strategi Penguatan Ekonomi Nasional 2026