Memang, kalau diamati, pawai itu sukses menampilkan wajah Jakarta yang plural. Di satu sisi, tradisi Imlek dihormati dan dirayakan dengan khidmat. Di sisi lain, budaya lokal hadir bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari perayaan tersebut. Semuanya berbaur tanpa ada yang merasa terpinggirkan.
Acara yang berlangsung meriah itu, menurut Titiek, memberikan pesan penting. Keragaman bukanlah halangan, justru kekuatan. Ia berharap momentum seperti ini bisa terus dilestarikan, menjadi contoh bagi daerah lain. Bagaimanapun, harmoni dalam perbedaan itulah yang selama ini menjadi perekat bangsa ini.
Gelak tawa penonton, sorak-sorai, dan iringan musik yang rancak sepertinya mengamini hal tersebut. Perayaan bukan lagi tentang satu kelompok tertentu, melainkan milik bersama. Sebuah pertunjukan budaya yang sederhana, namun maknanya sangat dalam.
Artikel Terkait
Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Plastik, Pedagang Pasar Keluhkan Kenaikan 50%
Kemkomdigi Tegaskan Rating Usia di Steam Bukan Klasifikasi Resmi IGRS
Trump Ultimatum Iran: Buka Selat Hormuz atau Hadapi Serangan Infrastruktur
Kubu Rismon Tegaskan Tudingan Libatkan JK dalam Kasus Ijazah Jokowi adalah Hoaks