Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menekankan pentingnya jalur diplomasi di tengah situasi yang rumit. Ia menyatakan pihaknya memiliki tanggung jawab untuk memanfaatkan setiap celah perdamaian.
"Kami memiliki tanggung jawab untuk tidak melewatkan kesempatan apa pun untuk menggunakan diplomasi," tegas Baghaei. Ia kemudian menambahkan, "Kami mengharapkan pihak AS juga akan berpartisipasi dalam proses ini dengan bertanggung jawab, realistis, dan serius."
Mediasi Oman dan Konteks Dalam Negeri
Pemilihan Oman sebagai tuan rumah bukanlah suatu kebetulan. Negara Teluk ini memiliki rekam jejak panjang dan dipercaya sebagai mediator yang netral dalam percakapan rahasia maupun terbuka antara Iran dan AS. Peran Oman dianggap krusial untuk menciptakan ruang dialog yang aman bagi kedua negara yang saling tidak percaya.
Pertemuan ini juga berlangsung dalam atmosfer politik dalam negeri Iran yang masih hangat. Kurang dari sebulan sebelumnya, gelombang unjuk rasa besar-besaran yang menurut kelompok hak asasi manusia ditangani dengan tindakan keras, telah mengguncang negara tersebut. Dinamika domestik ini turut mempengaruhi perhitungan dan mandat yang dibawa oleh delegasi Iran ke Muscat, menambah lapisan kompleksitas pada negosiasi yang sudah sarat beban sejarah ini.
Artikel Terkait
Lansia 71 Tahun Ditemukan Tewas Setelah Terjatuh ke Sungai Batang Sangir
Kapolres Sukoharjo Pimpin Penghormatan Terakhir, Aiptu Arfah Wafat Saat Lebaran
Stasiun Bogor Catat 149 Ribu Penumpang KRL di Puncak Arus Libur Panjang
Wakil Ketua MPR Ingatkan Pemerintah Soal Risiko Rencana Sekolah Daring untuk Hemat BBM