Wakil Ketua MPR Ingatkan Pemerintah Soal Risiko Rencana Sekolah Daring untuk Hemat BBM

- Selasa, 24 Maret 2026 | 19:00 WIB
Wakil Ketua MPR Ingatkan Pemerintah Soal Risiko Rencana Sekolah Daring untuk Hemat BBM

Rencana pemerintah menghemat BBM lewat sekolah daring lagi? Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat angkat bicara. Menurutnya, opsi itu memang bisa jadi solusi, tapi jangan asal comot dari laci. Persiapan matang mutlak diperlukan. Kalau tidak, ya hasilnya bakal mengecewakan. Proses belajar mengajar harus tetap berkualitas, meski lewat layar.

“Niatnya baik, sih. Tapi langkah teknisnya harus komprehensif,” ujar Rerie, sapaan akrabnya, dalam sebuah keterangan tertulis, Selasa lalu.

“Semua kebijakan, dari kementerian pusat sampai pemda, harus disinkronkan. Pokoknya, jangan sampai ada satu anak pun yang hak belajarnya hilang gara-gara kebijakan ini,” tegasnya.

Gagasannya sendiri muncul dari pernyataan Menko PMK Pratikno pekan lalu. Strategi penghematan BBM, salah satunya, akan menyentuh sektor pendidikan. Caranya? Dengan mengaktifkan lagi sistem pembelajaran daring seperti era pandemi dulu.

Namun begitu, Rerie mengingatkan. Rencana ini harus benar-benar dipahami oleh para pelaksana di lapangan. Jangan sampai salah kaprah. Pengalaman pahit selama PJJ dulu wajib jadi bahan evaluasi. Saat itu, banyak guru yang kelabakan, orang tua kewalahan, dan ujung-ujungnya kualitas belajar siswa anjlok.

“Jangan sampai kesalahan yang sama terulang,” kata politikus NasDem itu.

“Makanya, persiapan harus benar-benar matang.”

Di sisi lain, persoalan tak cuma soal kesiapan SDM. Sarana dan prasarana pendukungnya juga harus dipastikan. Infrastruktur digital seperti akses internet dan listrik di daerah-daerah, itu masalah klasik yang belum sepenuhnya tuntas. Data dari Kemendikdasmen di tahun 2025 mencatat, meski sudah ada penyaluran puluhan ribu perangkat digital ke satuan pendidikan, penyediaan akses internet dan listrik masih terbatas pada ribuan titik saja.

Belum lagi soal kemampuan guru. Punya alat canggih saja tidak cukup. Para pengajar harus benar-benar terampil mengoperasikan dan mengelola perangkat itu. Tanpa itu, alat cuma jadi pajangan.

Karena itu, Rerie berharap kolaborasi kuat terbangun antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat. Semua pihak harus bergerak bersama.

“Keberlanjutan proses belajar yang berkualitas itu penting banget,” pungkasnya.

“Ini soal masa depan anak bangsa, agar mereka bisa bersaing di kemudian hari.”

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar