Setelah 20 Kali Gagal, Perempuan Pematangsiantar Akhirnya Raih Beasiswa LPDP ke King’s College London

- Jumat, 08 Mei 2026 | 01:15 WIB
Setelah 20 Kali Gagal, Perempuan Pematangsiantar Akhirnya Raih Beasiswa LPDP ke King’s College London

Dua puluh kali kegagalan meraih beasiswa tidak pernah cukup untuk memadamkan mimpi seorang Pritta Novia Lora Damanik. Perempuan asal Pematangsiantar ini justru membuktikan bahwa ketekunan dapat mengubah penolakan berulang menjadi pintu menuju kesuksesan. Setelah melalui perjalanan panjang selama tujuh tahun, ia akhirnya berhasil menyelesaikan studi magister di King's College London berkat beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Bagi Pritta, perjuangan meraih beasiswa bukan sekadar soal lolos seleksi. Motivasi yang lebih dalam justru berasal dari keinginannya untuk berkontribusi nyata bagi perlindungan anak-anak Indonesia. Namun, jalan menuju impian itu tidaklah mulus. Keterbatasan finansial sempat memaksanya menguras habis tabungan hanya untuk membiayai tes bahasa Inggris. Setiap esai yang ia tulis dalam proses seleksi menjadi cermin pertumbuhan dirinya sendiri.

“Ketika saya membaca kembali setiap esai yang saya tulis dalam proses seleksi beasiswa, saya melihat bahwa ternyata saya selalu bertumbuh,” ujar Pritta dalam pernyataannya.

Semangatnya pun tidak selalu stabil. Ada masa ketika ia harus berhenti sejenak, terutama setelah menjadi penyintas gempa Palu. Dinamika hidup sempat membuatnya kehilangan arah. Namun, dukungan dari teman-teman terdekat terus mengingatkannya akan pentingnya mengejar kesempatan beasiswa. Perlahan, Pritta bangkit kembali dengan perspektif yang lebih matang. Ia meyakini bahwa untuk terus berjalan, seseorang tidak harus selalu berlari.

Sebelum akhirnya berhasil, Pritta telah menggeluti karier di sektor pembangunan sosial selama lebih dari satu dekade. Ia terlibat dalam berbagai inisiatif yang berfokus pada pemenuhan hak anak, mulai dari tingkat komunitas hingga advokasi kebijakan. Pengalaman itu membentuk pemahamannya bahwa perlindungan anak bukan hanya soal kepedulian, melainkan juga membutuhkan pendekatan yang sistematis dan berkelanjutan.

Kesempatan emas itu akhirnya tiba pada 2023. Pritta dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa LPDP dan melanjutkan studi magister di bidang Education Policy and Society di King's College London. Selama menempuh pendidikan di luar negeri, ia tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga memperluas perspektif terhadap praktik kebijakan publik dan sistem pendidikan. Ia mengamati bagaimana kebijakan dirancang, bagaimana anggaran dikelola, dan bagaimana implementasi dijalankan dalam konteks yang berbeda.

“LPDP ini bagian dari uang kita, uang rakyat Indonesia. Maka pertanggungjawaban kita sebagai awardee adalah kepada rakyat Indonesia,” tuturnya.

“Kalau bukan dari beasiswa LPDP, belum tentu saya bisa berkembang sejauh ini,” ujarnya menambahkan.

Berbekal perspektif dan pengalaman tersebut, Pritta kembali ke Indonesia dan kembali menekuni bidang perlindungan anak. Ia kini bekerja di sebuah organisasi nonpemerintah yang bermitra dengan pemerintah Indonesia untuk memperkuat sistem perlindungan anak, terutama melalui sektor pendidikan. Dalam perannya, ia tidak hanya terlibat dalam perancangan program, tetapi juga memastikan bahwa pendekatan yang dikembangkan selaras dengan kebijakan nasional dan relevan dengan kondisi di lapangan.

“Kepuasan tertinggi bagi saya adalah melihat anak-anak itu bisa bertumbuh,” katanya.

Pritta pun menyampaikan pesan kepada generasi muda agar tidak berhenti pada satu titik kegagalan. Baginya, keberhasilan akan selalu membuka jalannya sendiri. “Kegagalan itu bukan alasan untuk berhenti, tetapi kesempatan untuk menemukan jalan yang lain,” ucapnya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar