Di sisi lain, Hasto mengingatkan prinsip utama yang tak boleh dilupakan: kemanusiaan dan demokrasi. Dua hal itu harus jadi landasan dalam upaya menyelesaikan konflik di Gaza. Selain itu, Indonesia juga perlu mendorong reformasi di PBB. Tujuannya agar tak ada lagi hak veto yang membuat kedudukan negara-negara jadi tak setara.
Namun begitu, bukan cuma konsep perdamaiannya yang ia pertanyakan. Hasto juga menyorot langsung sosok di balik dewan tersebut, Donald Trump. Kredibilitasnya diragukan.
"Kita juga harus mempertanyakan kredibilitas dari Presiden Trump," imbuhnya.
Alasannya jelas. Sejarah mencatat berbagai intervensi AS di bawah kepemimpinannya.
"Karena kita melihat aksi terhadap Irak yang dilakukan sebelumnya, kemudian berbagai persoalan dengan mengatasnamakan perang terhadap terorisme di Suriah. Belum lagi persoalan-persoalan intervensi kedaulatan suatu negara seperti Venezuela," papar Hasto. "Itu semua tidak terlepas dari posisi superpower dari Amerika Serikat."
Jadi, intinya sederhana. Bagi Hasto, jalan perdamaian yang ditawarkan itu terasa paradoks. Dibangun oleh negara yang catatannya penuh intervensi, dan menjauhkan Indonesia dari akar diplomasi yang dulu diperjuangkan Bung Karno.
Artikel Terkait
Polisi Ungkap Motif Cemburu di Balik Pembunuhan Cucu Mpok Nori
Musik Indonesia Timur Mendominasi Tren Digital, Didorong Kecocokan dengan Platform Seperti TikTok
Iran Luncurkan Rudal ke Yerusalem, Israel Klaim Berhasil Patahkan Sebagian
Kim Jong Un Tegaskan Status Nuklir Korea Utara Harga Mati, Sebut Korsel Musuh Utama