Ini Tata Cara dan Waktu yang Tepat untuk Puasa Qadha Ramadhan

- Selasa, 24 Maret 2026 | 07:00 WIB
Ini Tata Cara dan Waktu yang Tepat untuk Puasa Qadha Ramadhan
Mengatur Waktu untuk Puasa Qadha

Kapan Harus Niat, dan Kapan Boleh Mulai?

Bagi yang punya utang puasa Ramadhan entah karena sakit, dalam perjalanan, atau alasan syar'i lainnya mengqadhanya adalah kewajiban. Tapi, pertanyaan yang sering muncul: kapan niatnya harus dibaca? Dan tanggal berapa puasa pengganti ini bisa dimulai?

Jawabannya sederhana, tapi penting. Karena puasa qadha ini statusnya wajib, maka niatnya harus sudah ditetapkan pada malam hari, sebelum fajar menyingsing. Jadi, kalau kamu berniat puasa besok, pastikan niat sudah ada di hati dan lisan sejak malam sebelumnya. Jangan sampai kesiangan.

Nah, untuk waktunya sendiri, kamu punya ruang gerak yang cukup longgar. Puasa qadha bisa dilakukan di hari-hari biasa, di luar bulan Ramadhan. Tentu saja, ada beberapa tanggal yang harus dihindari.

Hari-Hari yang Harus Dihindari untuk Qadha

Kamu bisa mulai mengqadha puasa setelah Ramadhan usai, tepatnya mulai tanggal 2 Syawal. Lakukan sesuai kemampuan, bisa dicicil atau berurutan. Yang penting, selesaikan.

Namun begitu, jangan sampai salah pilih hari. Ada beberapa waktu yang memang diharamkan untuk berpuasa, jadi jangan dipaksakan untuk qadha. Hari-hari itu adalah:

  • 1 Syawal, alias Hari Raya Idulfitri.
  • 10 Zulhijah, hari raya Iduladha.
  • Serta tiga hari setelahnya, tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah yang dikenal sebagai hari tasyrik.

Di luar tanggal-tanggal itu, silakan. Bebas. Mau di bulan Syawal, Zulkaidah, atau bahkan mendekati Ramadhan berikutnya, asal jangan sampai keteteran.

Bacaan Niat: Arab, Latin, dan Maknanya

Ini bacaan niat yang umum digunakan. Bisa dihafalkan, dibaca pelan-pelan, yang penting paham maknanya.

Tulisan Arab:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latinnya:

Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi Ramadhāna lillāhi ta‘ālā

Artinya kira-kira:

"Aku niat puasa esok hari untuk mengganti kewajiban Ramadhan, karena Allah Ta'ala."

Kapan membacanya? Bisa malam hari sebelum tidur, seusai salat Isya, atau saat santap sahur. Intinya, sebelum azan Subuh berkumandang.

Praktiknya, Mirip Puasa Biasa

Tata cara puasa qadhanya sendiri sebenarnya tak jauh beda dengan puasa Ramadhan. Bedanya cuma di niat. Fokusnya adalah mengganti yang wajib.

Secara garis besar, begini langkah-langkahnya:

  1. Niat di malam hari. Ini kunci.
  2. Sahur meski sunnah, sangat dianjurkan agar kuat.
  3. Menahan diri dari yang membatalkan, dari Subuh sampai Magrib.
  4. Jaga lisan dan perbuatan. Jangan sampai puasa cuma dapat haus dan lapar.
  5. Segera berbuka saat waktunya tiba.

Lakukan dengan kesadaran penuh. Ini ibadah wajib, bukan sekadar rutinitas.

Jangan Lupa Amalan Sunnahnya

Meski tujuannya mengganti utang, jangan lewatkan amalan sunnah yang bisa menyempurnakannya. Misalnya, mengakhirkan sahur dan menyegerakan buka. Lalu perbanyak doa, baca Al-Qur'an, dan sedekah.

Dengan begitu, puasa qadha tak cuma jadi pelunasan kewajiban. Ia juga bisa jadi momen untuk menambah pahala dan mendekatkan diri.

Bisakah Digabung dengan Puasa Sunnah?

Pertanyaan ini sering muncul. Misal, kan enak kalau puasa qadha-nya dilakukan hari Senin atau Kamis, sekalian dapat pahala sunnah. Bagaimana?

Menurut banyak ulama, lebih baik fokuskan niat pada qadha saja. Utamakan yang wajib dulu. Setelah utang puasa Ramadhan lunas, baru kamu bisa bebas menumpuk puasa sunnah sebanyak-banyaknya. Jangan dibalik.

Jangan Menunda-nunda

Ini nasihat yang klise tapi nyata. Menyegerakan qadha itu melegakan. Beban kewajiban jadi tidak menggunung, apalagi jika Ramadhan berikutnya sudah di depan mata.

Menunda tanpa alasan kuat hanya akan membuatmu kelabakan. Bisa-bisa utang menumpuk dan terasa berat sekali untuk diselesaikan. Makanya, banyak yang memulai cicilan qadha-nya sejak Syawal, sedikit demi sedikit, hingga tuntas.

Pada akhirnya, yang penting dimengerti adalah ini: niatnya di malam hari, waktunya fleksibel asal hindari hari haram. Dengan memahami aturan mainnya, ibadah pengganti ini bisa dijalani dengan lebih tenang dan tepat. Selamat menunaikan kewajiban.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar