Musik Indonesia Timur Mendominasi Tren Digital, Didorong Kecocokan dengan Platform Seperti TikTok

- Selasa, 24 Maret 2026 | 07:00 WIB
Musik Indonesia Timur Mendominasi Tren Digital, Didorong Kecocokan dengan Platform Seperti TikTok

Belakangan ini, telinga kita sepertinya tak bisa lepas dari dentuman khas musik Indonesia Timur. Coba saja buka TikTok, hampir pasti kamu akan menemukan video dengan backsound lagu-lagu dari timur negeri ini. Tak cuma di sana, di YouTube pun derasnya arus lagu-lagu seperti "Tabola Bale" atau "Stecu-Stecu" benar-benar tak terbendung.

Angkanya pun nyata. Data YouTube per 3 Maret 2026 mencatat fakta menarik: empat dari sepuluh video musik terpopuler didominasi genre Pop Indonesia Timur. Beberapa judul itu meraup ratusan juta view hanya dalam hitungan bulan. Luar biasa, bukan?

Nah, kalau didengar lebih saksama, sebenarnya ada pola yang familiar. Musik ini punya formula serupa dengan genre-genre tarian lain macam dangdut atau reggae. Mereka bermain-main dengan ketukan sela, atau off-beat, yang diselipkan di antara ketukan utama. Tapi di situlah letak perbedaannya.

Meski pola ketukannya mirip, vokal dalam lagu-lagu Indonesia Timur ini jauh lebih padat dan berirama. Bayangkan saja, saat instrumennya dikurangi, vokalnya tetap bisa berdiri sendiri dengan ritme yang kuat. Bandingkan dengan dangdut, atau bahkan beberapa potongan musik klasik, vokal musik timur ini punya energi yang berbeda.

Kombinasi inilah tempo cepat, ketukan sela yang catchy, plus vokal yang padat yang rupanya sangat cocok dengan ekosistem TikTok. Platform itu bukan cuma soal wajah, tapi juga gerak.

Aris Setiawan, seorang etnomusikolog dari Institut Seni Indonesia Surakarta, punya pandangan yang menarik soal fenomena ini.

"Media sosial, terutama TikTok, tidak hanya menampilkan wajah, tapi juga konstruksi tubuh yang bergerak. Lagu-lagu yang energik dan cepat otomatis menemukan ruangnya," ujarnya pada 9 Februari 2026.

Jadi, bukan kebetulan belaka. Ada kecocokan yang alamiah antara karakter musik yang penuh energi itu dengan hasrat pengguna media sosial untuk mengekspresikan diri lewat gerak. Musik Indonesia Timur bukan sekadar tren sesaat; ia menemukan panggungnya di era di mana segala sesuatu bergerak serba cepat.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar