IHSG Cetak Rekor Baru, Tapi Transaksi Justru Lesu

- Sabtu, 06 Desember 2025 | 06:40 WIB
IHSG Cetak Rekor Baru, Tapi Transaksi Justru Lesu

Pekan ini, IHSG kembali mencatatkan sejarah. Indeks Harga Saham Gabungan menyentuh level penutupan tertinggi sepanjang masa, atau All Time High, melanjutkan tren bullish yang menarik perhatian banyak pelaku pasar. Dari posisi 8.508,7 poin pekan lalu, IHSG berhasil menguat cukup signifikan, yakni 1,46 persen, menjadi 8.632,76 poin.

Kenaikan indeks tentu saja membawa angin segar. Nilai kapitalisasi pasar emiten di Bursa Efek Indonesia pun ikut terdongkrak, naik 1,39 persen. Angkanya bergerak dari Rp15.844 triliun menjadi Rp15.626 triliun.

Menurut Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, ada satu catatan yang cukup mencolok.

“Peningkatan tertinggi justru tercatat pada rata-rata frekuensi transaksi harian,” ujarnya dalam keterangan resmi yang dirilis Sabtu (6/12/2025).

“Angkanya naik 2,13 persen menjadi 2,66 juta kali transaksi, dari sebelumnya 2,61 juta kali,” lanjut Kautsar.

Namun begitu, tidak semua data berwarna hijau. Di sisi lain, rata-rata volume transaksi harian justru mengalami penurunan. Data menunjukkan penurunan sebesar 8,12 persen menjadi 46,39 miliar lembar saham. Pekan sebelumnya, volume masih berada di angka 50,49 miliar lembar.

Kondisi serupa terjadi pada nilai transaksi. Rata-rata nilai transaksi harian BEI anjlok cukup dalam, 29,61 persen, menjadi Rp21,34 triliun dari posisi Rp30,31 triliun.

Lalu, bagaimana dengan peran investor asing? Pada Jumat kemarin, mereka mencatatkan pembelian bersih senilai Rp381,18 miliar. Tapi kalau dilihat dari kaca mata yang lebih panjang, ceritanya agak berbeda. Sepanjang tahun 2025 ini, investor asing justru masih mencatatkan pelepasan saham bersih dengan nilai yang tidak kecil, mencapai Rp27,09 triliun.

Di luar pergerakan saham, BEI juga mencatatkan instrumen pendanaan baru. Tepatnya pada Jumat (5/12), tercatat Obligasi Berkelanjutan VII dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I dari PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TOWR). Nilainya cukup fantastis, Rp1,6 triliun untuk obligasi dan Rp600 miliar untuk sukuk.

Instrumen ini mendapat peringkat AA (Double A Plus) dari Fitch Ratings Indonesia, dengan Wali Amanat PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.

Kautsar juga menyampaikan gambaran yang lebih luas. Hingga saat ini di tahun 2025, total sudah ada 166 emisi obligasi dan sukuk yang tercatat, berasal dari 76 emiten dengan nilai Rp198,05 triliun. Akumulasinya sejak awal? BEI telah mencatat 654 emisi dengan nilai outstanding yang sangat besar, Rp536,22 triliun plus USD134 juta lebih, dari 136 emiten.

Belum lagi instrumen negara. Surat Berharga Negara yang tercatat di BEI jumlahnya 191 seri dengan nilai Rp6.423,84 triliun. Ada juga EBA atau Efek Beragun Aset, 7 emisi senilai Rp2,13 triliun.

Pasar modal kita memang lagi panas. Rekor terus dipecahkan, meski ada beberapa data yang perlu dicermati lebih dalam. Menarik untuk dilihat, apakah tren positif ini bisa bertahan di pekan-pekan mendatang.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar