KAI Matangkan Peta Jalan Transisi Biodiesel dari B0 ke B50 untuk Tekan Emisi

- Selasa, 16 Juni 2026 | 23:30 WIB
KAI Matangkan Peta Jalan Transisi Biodiesel dari B0 ke B50 untuk Tekan Emisi

PT Kereta Api Indonesia (Persero) tengah mematangkan peta jalan atau roadmap penerapan biodiesel secara bertahap dalam sistem operasional perkeretaapian, sejalan dengan regulasi mandatori bahan bakar nabati yang digulirkan pemerintah. Transisi energi di lingkungan internal perusahaan ini tidak berlangsung secara instan, melainkan melalui serangkaian tahapan yang telah dimulai sejak bertahun-tahun lalu.

Berdasarkan data internal KAI, riwayat penggunaan bahan bakar operasional menunjukkan tren peningkatan kadar biodiesel secara konsisten. Pada 2017, perusahaan masih menggunakan B0, lalu naik menjadi B20 pada periode 2018–2019, berlanjut ke B30 pada 2020–2022, dan B35 pada 2023–2024. Memasuki 2025–2026, KAI telah mengadopsi B40, dan saat ini tengah diarahkan untuk bertransisi menuju pemanfaatan B50 pada 2026.

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menegaskan bahwa perkembangan dari B0 hingga B50 menjadi bukti nyata pentingnya konsistensi arah kebijakan energi nasional serta kesiapan operator transportasi publik dalam menerjemahkan kebijakan tersebut ke dalam layanan yang andal. Menurut dia, transformasi energi Indonesia membutuhkan sektor transportasi yang mampu beradaptasi secara terukur.

“KAI memperkuat peran kereta api melalui roadmap biodiesel dari B0 menuju B50, dengan memastikan setiap tahapan berjalan selaras dengan keselamatan, keandalan layanan, efisiensi energi, dan penurunan emisi,” kata Bobby dalam keterangan resmi, Selasa (16/6/2026).

Ia menambahkan, industri perkeretaapian memegang peranan krusial karena berada di pusat kebutuhan mobilitas publik, kelancaran logistik barang, serta target dekarbonisasi nasional. Mengingat besarnya volume layanan yang dikelola KAI, setiap kebijakan efisiensi energi yang diambil korporasi diyakini akan memberikan dampak nyata bagi keberlanjutan layanan publik sekaligus meningkatkan daya saing logistik nasional.

“Kereta api bekerja untuk masyarakat dan ekonomi nasional. Karena itu, transisi energi di KAI harus menghasilkan manfaat yang dapat dihitung, mulai dari layanan tetap andal, penggunaan energi semakin efisien, hingga kontribusi terhadap keberlanjutan yang semakin jelas,” katanya.

Sementara itu, Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menjelaskan bahwa perpindahan jenis bahan bakar ini dilaksanakan secara bertahap melalui koordinasi teknis yang intensif bersama pemerintah dan berbagai instansi terkait. Pihaknya memastikan setiap tahapan penggunaan biodiesel berjalan melalui pengujian teknis dan evaluasi agar layanan kepada pelanggan serta sektor logistik tetap aman dan andal.

Anne memaparkan, sinergi antara KAI dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam menguji coba penerapan B50 di sektor kereta api telah dimulai sejak April 2026. Pengujian komprehensif dilakukan pada unit lokomotif dan genset kereta api guna mengevaluasi aspek performa mesin, tingkat konsumsi bahan bakar, volume emisi yang dihasilkan, serta daya tahan sarana dalam berbagai skenario operasional riil.

Untuk pengujian lokomotif, KAI menggunakan unit tipe CC206 yang dipasangkan pada rangkaian Kereta Api Sembrani. Simulasi uji coba tersebut dilakukan dari Depo Sidotopo dengan melakukan studi komparasi konsumsi bahan bakar antara varian B40 dan B50. Dengan demikian, memasuki Juni 2026, KAI kini berada pada fase pemantauan serta evaluasi teknis mendalam terhadap data hasil pengujian sebelum skema B50 diimplementasikan dalam skala yang lebih luas.

Dari aspek pelestarian lingkungan, penerapan bahan bakar B50 dikategorikan sebagai program kerja strategis dekarbonisasi KAI untuk periode 2025–2030. Melalui peta jalan tersebut, migrasi bahan bakar dari B35 menuju B50 ditargetkan mampu memangkas emisi karbon hingga mencapai 133.676 ton CO₂e.

“Dengan dukungan pemerintah, KAI akan terus menjaga layanan transportasi publik dan logistik tetap andal, sekaligus memperkuat kontribusi terhadap ketahanan energi nasional, penurunan emisi, dan daya saing ekonomi,” kata Bobby.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar