Tanggal 1 hingga 6 Februari 2026. Selama seminggu itu, saya mendampingi Ibu Megawati Soekarnoputri Presiden kelima kita, sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan dalam lawatannya ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Kunjungan ini bukan sembarang acara. Ada dua undangan istimewa yang menyertainya: Zayed Award for Human Fraternity dan undangan pribadi dari Sang Putra Mahkota UEA, Yang Mulia Syaikh Khaled bin Muhammad Zayed Al Nahyan.
Banyak hal saya tangkap dari perjalanan itu. Pesan moral, semangat kebangsaan, hal-hal yang terasa sayang kalau cuma jadi kenangan pribadi. Maka, saya coba tuangkan di sini.
Politik global sekarang ini riuh. Seringkali cuma soal kekuatan dan strategi keras. Tapi di Abu Dhabi, awal Februari lalu, nuansa berbeda terasa. Sebuah narasi lama dari bangsa-bangsa Selatan kembali mengemuka: bahwa dunia ini bisa ditata dengan solidaritas, dengan martabat, dengan keberanian moral. Bukan cuma dominasi.
Megawati Soekarnoputri, Sang Nareswari, hadir di sana. Kehadirannya bukan sekadar sebagai utusan politik biasa. Lebih dari itu, ia adalah pembawa pesan peradaban. Sebuah pesan yang berakar dalam dari sejarah dan budaya Nusantara, lahir dari pengalaman panjang bangsanya sendiri.
Di jantung negara yang megah itu, ia datang untuk sesuatu yang lebih besar. Bukan cuma negosiasi kepentingan sempit. Tapi untuk mengingatkan kembali dimensi etika dalam hubungan antar bangsa. Di era yang serba pragmatis, kehadirannya seperti pengingat. Bahwa diplomasi sejati itu bicara tentang nurani, bukan cuma kuasa.
Inilah wajah diplomasi yang dulu diperjuangkan Bung Karno. Sebuah diplomasi yang menolak tunduk pada blok kekuatan mana pun. Diplomasi yang berdiri sebagai suara hati nurani yang merdeka dan bermartabat.
Lebih Dari Sekadar Protokol
Acara Zayed Award for Human Fraternity itu sendiri sudah istimewa. Tapi kunjungan ini melampauinya. Di forum bergengsi itu, Megawati menyulam kembali benang-benang kemanusiaan yang sering terputus oleh ego ideologi. Dengan membawa ruh Pancasila, ia menegaskan bahwa perbedaan itu mozaik, bukan retakan.
Prinsipnya yang teguh inilah yang membuatnya dihormati. Tak heran, Grand Imam Al-Azhar dan almarhum Sri Paus Fransiskus mengangkatnya menjadi anggota Dewan Juri award ini di 2024. Dan berkat kewibawaannya di dewan itu, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah bisa meraih penghargaan Zayed Award di tahun yang sama. Sebuah pengakuan global untuk Islam Indonesia yang moderat.
Di sela agenda resmi, ruangannya ramai oleh tamu kehormatan. Mulai dari Presiden Timor Leste, José Ramos-Horta, mantan Presiden Kosovo, hingga para pemenang award tahun ini. Suasana hangat. Pertemuan-pertemuan itu membuktikan satu hal: kepemimpinan yang berbasis nilai kemanusiaan punya daya magnet yang luar biasa. Melampaui jabatan, ideologi, bahkan agama.
Pertemuan yang Menyimpan Makna
Namun, puncaknya mungkin adalah pertemuan dengan Putra Mahkota UEA. Dalam suasana akrab, Megawati membuka cerita tentang akar kepemimpinannya.
Artikel Terkait
Pengelola Terapkan Sistem Buka-Tutup Rest Area KM 52B untuk Antisipasi Macet Jakarta-Cikampek
Rudal Iran Tembus Pertahanan Udara Israel di Dekat Fasilitas Nuklir Dimona
Rudal Iran Tembus Sistem Davids Sling, Lukai Puluhan di Israel Selatan
Puncak Arus Balik Lebaran di Ketapang-Gilimanuk Diprediksi 26-29 Maret 2026