Penghimpunan dana di pasar modal Indonesia masih menunjukkan ketangguhan di tengah ketidakpastian global, dengan nilai mencapai Rp59,35 triliun hingga 5 Mei 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, hampir seluruhnya atau 99 persen dari total tersebut berasal dari penerbitan surat utang dan sukuk, sementara penawaran umum perdana saham (IPO) minim terjadi pada awal tahun.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengungkapkan bahwa capaian ini mencerminkan minat penghimpunan dana yang tetap terjaga, khususnya melalui efek bersifat utang dan sukuk yang mencapai Rp58,9 triliun. “Capaian ini tentu saja menunjukkan terjaganya minat fundraising di pasar modal Indonesia yang didominasi oleh penerbitan efek bersifat utang dan atau sukuk,” ujarnya dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada Kamis (7/5/2026).
Perempuan yang akrab disapa Kiki itu menilai, kekuatan penghimpunan dana ini tidak lepas dari peran investor domestik yang tangguh dalam menyerap instrumen investasi. Ia menyebutkan, jumlah investor pasar modal hingga akhir kuartal I-2026 tercatat meningkat menjadi 24,7 juta single investor identification (SID), dan saat ini telah mencapai 26 juta. “Jadi, ini juga menunjukkan confidence (kepercayaan) terhadap pasar modal Indonesia dengan masuknya banyak investor ritel domestik,” kata Kiki.
Di sisi lain, ia tidak menampik bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada di zona merah. Pada akhir Maret 2026, IHSG sempat terkoreksi hingga 18,5 persen sebelum kembali fluktuatif. Secara kumulatif sejak Januari hingga April 2026, indeks tercatat melemah sebesar 19,55 persen. Friderica menyoroti eskalasi geopolitik di Timur Tengah sebagai pemicu utama ketidakpastian global yang mendorong pelemahan pasar keuangan.
Sementara itu, OJK bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah menyelesaikan empat dari delapan inisiatif dalam agenda reformasi pasar modal. Upaya strategis ini dilakukan untuk memperkokoh integritas pasar sekaligus meningkatkan daya saing pasar saham Indonesia di mata global, termasuk bagi investor internasional dan penyedia indeks seperti MSCI. “Terkait delapan rencana aksi di pasar modal, reformasi integritas pasar modal yang semuanya sudah kita lakukan, kecuali yang untuk free float masih ada tahapan-tahapannya. Jadi semuanya sudah kami deliver,” ujar Friderica.
Artikel Terkait
Harga Minyak Melonjak setelah AS Serang Target Iran di Selat Hormuz
IHSG Diprediksi Tertekan, Berpotensi Koreksi ke Kisaran 6.645-6.838
Wall Street Melemah, Reli Saham Teknologi Terhenti di Tengah Ketidakpastian Negosiasi AS-Iran
Wall Street Melemah, Reli Saham Teknologi dan Intel Terkoreksi