Lebih jauh, Irjen Agus meminta seluruh jajaran di Indonesia untuk mengedepankan profesionalisme yang berkeadilan. Sikap arogan saat bertugas harus dihilangkan. "Melayani itu wujud pengabdian," tegasnya. "Membantu tanpa pamrih, memberikan solusi bagi masyarakat yang kesulitan di jalan. Kita rangkul semua lapisan masyarakat."
Program ini nantinya juga akan diintegrasikan dengan teknologi digital. Penerapan ETLE dan ETLE Drone Patrol Presisi akan diperkuat. Tujuannya jelas: mewujudkan pelayanan yang modern sekaligus transparan.
Tapi jangan salah. Teknologi canggih saja tidak cukup. Penegakan SOP yang ketat dan pendekatan humanis tetap menjadi pilar utama. Sistem ini diharapkan tidak dirasakan sebagai pengawasan yang menyeramkan, melainkan sebagai bentuk keadilan bagi semua.
Bagi Irjen Agus, ETLE bukan alat jebakan semata. "Keselamatan lalu lintas adalah yang utama," tegasnya. "Lalu lintas adalah cermin budaya bangsa, maka patuh dan tertib berlalu lintas adalah kunci keselamatan di jalan."
Teknologi seperti drone patroli disebutnya membuat pengawasan lebih luas dan objektif. Interaksi langsung yang minim antara petugas dan pengendara juga dianggap bisa menjaga akuntabilitas penindakan.
Namun begitu, ada satu hal yang ia tekankan. "Secanggih apa pun teknologi, sentuhan kemanusiaan melalui sapaan yang tulus tetap tidak tergantikan," ingatnya.
Intinya sederhana. "Intinya adalah menyapa dengan hati, melayani dengan profesional. Kita ingin masyarakat merasa Polantas adalah sahabat mereka dalam menjaga keselamatan," pungkas Irjen Agus menutup pembicaraan.
Artikel Terkait
Interpol Proses Red Notice untuk Buron Kasus Laptop Nadiem
Raksasa Film Pendek Indonesia Mulai Bangun di Festival Bergengsi Prancis
Glodok Berubah Jadi Lautan Merah dan Emas Jelang Imlek 2026
Interpol Pasang Buru-Buru untuk Riza Chalid, Buronan Korupsi Migas