Pemandangannya sungguh kontras. Di antara deretan nisan dan makam yang rapi di TPU Kebon Nanas, Jakarta Timur, kini hanya tersisa tumpukan puing. Reruntuhan itu menumpuk di samping Gedung Mulia & Raja, bekas permukiman yang kini hancur lebur.
Pantauan di lokasi pada Minggu (1/2) memperlihatkan suasana yang muram. Perabotan rumah tangga kursi, lemari, panci berserakan di antara kayu, asbes, dan batu bata. Beberapa pakaian dan bahkan boneka anak-anak tergeletak begitu saja, sudah kotor oleh debu dan tanah. Di beberapa titik, puing-puing itu membentuk gundukan seperti bukit kecil. Genangan air tergenang di sela-selanya, menambah kesan suram.
Yang menarik, di sisi kanan lokasi masih tersisa bekas pondasi wastafel dan gambar kubah yang samar. Jejak itu jelas menunjukkan bahwa di tengah kerumunan rumah, dulu pernah berdiri sebuah tempat ibadah.
Nuansa kehancurannya terasa kuat. Beberapa pondasi masih tegak meski rapuh, seolah menjadi saksi bisu bahwa di sini pernah ramai oleh kehidupan. Kini, semua telah pergi.
Permukiman ini bukanlah permukiman baru. Sudah puluhan tahun dihuni, bahkan oleh hampir 100 keluarga. Namun, pemerintah akhirnya merelokasi seluruh warganya. Alasannya, DKI Jakarta sedang krisis lahan untuk perluasan pemakaman.
Sarjono (58), salah satu mantan penghuni, punya cerita lebih detail. Menurutnya, jumlah keluarga yang pernah tinggal di sana bisa lebih dari 100.
"Kurang lebih 96 KK yang tercatat sekarang. Hampir 100 lah. Tapi itu yang khusus warga RT/RW setempat saja," ujar Sarjono.
"Yang asli KK RT 15/RW 02. Bahkan sebenarnya lebih dari itu, lebih dari 100. Soalnya kan ada yang KK-nya tercatat di Cipinang Muara atau kelurahan lain," tambahnya.
Dia juga menyebut, rumah yang berdiri sebelum dibongkar mencapai sekitar 150 pintu. "Kurang lebih 150 pintu tuh," katanya.
Menurut Sarjono, warga di RT 15 itu selalu bertambah, tidak seperti RT pada umumnya.
"Lah ini tiap tahun, tiap bulan nambah terus nih warga," ucapnya.
"Minimal satu RT kan biasanya 60 KK. Lah ini bisa lebih dari 200 KK. Luar biasa kan?"
Meski rumahnya sudah rata dengan tanah, Sarjono masih sering kembali ke TPU Kebon Nanas. Bukan untuk bernostalgia, melainkan bekerja. Dia mengais besi-besi bekas dari reruntuhan bangunan untuk dijual.
Sebagian Besar Berprofesi Pemulung
Amin (51), warga lain yang tinggal di luar area TPU tapi masih satu RT, punya gambaran tentang mata pencaharian para mantan penghuni. "Kebanyakan pemulung," katanya.
"Orang cari nafkah ya ngumpulin paku, besi bekas. Paling ya cuma mampu ngontrak. Tapi namanya cari nafkah, pemulung juga pekerjaan," tutur Amin.
Proses pembongkaran terakhir dilakukan pada Selasa (27/1). Nasib warga pun beragam. Sebagian besar memang direlokasi ke rusunawa yang disediakan Pemprov DKI. Namun, ada juga yang memilih jalan sendiri, mengontrak tempat tinggal baru di luar skema pemerintah.
Kini, yang tersisa hanya kesunyian dan tumpukan kenangan yang berserakan di antara nisan.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu