Aku menulis ini untukmu. Untuk menggambarkan betapa berartinya setiap detik yang kita lalui. Hari-hari awal kita bertemu masih jelas terpampang di ingatan. Saat itu, senja selalu jadi sesuatu yang kurindukan.
Macetnya Mega Kuningan dan Rasuna Said? Bukan apa-apa. Asal bisa bertemu setelah jam kantor usai, kemacetan itu hanya jadi latar belakang belaka. Semua berawal dari sebuah coffee shop kecil di gedung perkantoran Rasuna Said. Dari sana, kita mulai menjajaki sudut-sudut Mega Kuningan, lalu merambah ke kedai makanan di kawasan Setiabudi.
Perjalanan kita pun meluas, keluar dari lingkaran Rasuna Said dan Mega Kuningan. Seiring itu, perasaan antara kita juga tumbuh. Rasa yang sering kita sebut "bittersweet" itu. Aku mulai menyadarinya saat kita berbagi tawa, berbagi hal-hal konyol, hingga saat kita mencoba hal baru mulai dari kulineran di Sabang sampai ke Glodok yang kita panggil "Kota".
Tapi rasa itu tak hanya tumbuh dari tawa. Kita juga berbagi kesedihan. Jujur, kamu itu seperti cromboloni. Kebanyakan orang pasti langsung membayangkan rasa manis saat mendengar namanya. Padahal, kalau dirasakan sungguh-sungguh, cromboloni punya dua sisi: yang manis dan yang tawar.
Dan kamu persis seperti itu. Kehadiranmu selalu berarti bukan cuma karena sisi manisnya, tapi juga karena bagian tawarnya. Satu sisi penuh gula-gula warna-warni, sisi lainnya polos dan hambar.
Sampai sekarang aku merindukanmu. Kamu adalah misteri terindah dalam hidupku. Kadang, saat aku sangat ingin menikmati manisnya hidup, justru yang kudapat adalah bagian yang tawar. Sebaliknya, gula-gulamu selalu muncul di saat hari-hariku terasa paling hambar.
Kalau sekarang ada yang tanya, apa rasanya cromboloni? Jawabanku belum tentu manis. Aku ingat betul hari-hari di mana aku merindukan sisi manismu, tapi yang datang malah kepahitan yang berakhir dengan lamunan panjang.
Setelah meresapi hidup lewat cromboloni, aku bisa bilang: iklan-iklan yang menggambarkannya sebagai sesuatu yang manis terus-menerus itu bohong besar! Cromboloni itu belum tentu manis. Tapi kita tetap menggigitnya, berharap menemukan manisnya.
Menulis kisah ini bikin aku melamun. Membayangkan perjalanan kita yang sudah cukup jauh. Aku teringat satu cerita, saat aku sedang di luar negeri. Niatnya menikmati gula-gula bersamamu, tapi yang terjadi? Aku malah mendapat bagian tawarnya. Aku tak menemukanmu. Makanya, cromboloni itu adalah kamu.
Kamu adalah perjalanan yang harus dinikmati, sekaligus tujuan yang ingin kuraih sekarang dan selamanya. Ngomong-ngomong, kira-kira apa yang orang lakukan kalau gigitan pertama cromboloni mereka ternyata tawar? Pasti mereka lanjut menggigit. Sampai nemu yang manis.
Pikiranku melayang suatu sore, sambil menyeruput matcha dan memandang wajah manismu di balik mendung. Aku membayangkan, apa yang dilakukan kebanyakan orang setelah mereka menggigit bagian manis penuh gula-gula itu?
Mungkin mereka justru akan rindu pada sisi tawarnya. Atau merindukan pahitnya kopi di cangkir sebelah, atau segarnya jus buah. Lalu kubayangkan, bagaimana kalau cromboloni itu isinya cuma manis semua? Tentu jadi tidak sehat. Dan, yang pasti, tidak menarik lagi.
Aku selalu menanti hari-hari bersamamu. Aku sering bilang, kebersamaan denganmu adalah ikigai-ku filosofi Jepang tentang tujuan hidup. Setelah melewati banyak hal, aku melengkapinya dengan kintsugi.
Kintsugi, yang juga dari Jepang, adalah seni menyempurnakan yang retak agar tampak indah. Aku belajar maknanya justru dari bagian tawar crombolonimu. Sementara, bagian manis dan gula-gulamu adalah ikigai itu sendiri.
Nama "cromboloni" untukmu muncul saat aku antre di sebuah kafe artisan dekat kantor. Mataku langsung tertuju pada sepotong cromboloni di etalase. Ia terlihat manis dan menarik, persis seperti kamu.
Antreannya panjang. Di depanku, banyak orang juga mengincar kue itu dan kopi artisan. Hati ini sempat was-was, khawatir kalau-kalau cromboloni incaranku habis terjual sebelum giliranku tiba.
Artikel Terkait
Nadiem Sindir Kesaksian Saksi Kasus Chromebook: Sangat Lucu, Seperti Copy Paste
Ledakan Kabul Guncang Hotel, Tewaskan 7 dan Lukai Belasan Warga
Polisi Gencar Sebar Tangan Elektronik ETLE Mobile ke Seluruh Indonesia
Peringatan Kemenhut: 2027 Jadi Tahun Kritis Karhutla