Cromboloni dan Senja Jakarta: Kisah Cinta yang Tak Selalu Manis

- Senin, 19 Januari 2026 | 22:30 WIB
Cromboloni dan Senja Jakarta: Kisah Cinta yang Tak Selalu Manis

"Mau pesan apa, Kak?" tanya baristanya ramah.

"Saya mau cromboloni yang ini," kataku sambil menunjuk, lega karena kue itu masih ada.

"Minumnya apa, Kak?"

"Satu es americano tanpa gula," jawabku sambil membayar.

Duduk di bangku kafe, lamunanku kembali muncul. Benar juga. Kamu adalah cromboloni bagiku. Rasa was-was tadi, rasa takut kehilangan dan tak ingin berbagi itu, sama persis dengan perasaanku tentangmu.

Aku menyantap cromboloni pilihanku, lapis demi lapis, menikmati manis dan tawarnya sambil memandang senja Jakarta dari balik jendela. Di luar, kemacetan jam pulang kantor mulai merayap.

Dari jendela yang sama, kulihat dekorasi Valentine di sebuah mall. Hiasan penuh hati, bunga, boneka, dan cokelat. Aku kembali tenggelam dalam pikiran.

Aku bertanya-tanya, apakah mereka yang merayakan Valentine selalu merasakan kebahagiaan semanis cokelat? Atau selalu seromantis buket mawar? Atau selalu seceria boneka-boneka itu?

Bagiku, Valentine lebih tepat dimetaforakan sebagai cromboloni. Alasannya sederhana.

Cromboloni bukan cokelat yang di setiap bagiannya pasti manis. Ia juga bukan boneka yang wajahnya selalu tersenyum. Kamu seperti cromboloni tak selalu memberikan rasa yang sama di setiap gigitan.

"Stuck on you, I've got this feeling down, deep in my soul, that I just can't lose..." lagu Lionel Richie terdengar sayup. Senja telah berganti malam. Dan aku sadar, bagiku Valentine itu adalah kamu. Valentine adalah cromboloni. Bukan cokelat, bunga, atau boneka. Mungkin metafora itu cuma untuk mereka yang baru saja merasakan jatuh cinta.

Bagiku, Valentine itu kamu. Cromboloni itu kamu. Di titik sedih atau bahagia, aku akan selalu mencarimu untuk mengeluh, untuk khawatir, atau sekadar pamer hal receh.

Happy Valentine, Cromboloni... Aku akan selalu merindukanmu, dalam manis, tawar, atau gula-gulamu. Cepat-cepat kubuka laptop dan kutunggingkan cerita pendek ini untukmu. Mungkin inilah ucapan Valentine termanis yang bisa kuberikan saat ini.

"Maaf, Kak, kami sudah close order," sapa seorang barista dengan ramah. Persis saat aku mengirimkan surel naskah itu ke sebuah media. Cerpen berjudul "Happy Valentine, Cromboloni!". Aku berharap, cerita tentang cromboloni ini punya sekuelnya nanti.


Rio Christiawan, lahir di Kediri, 18 Maret 1981. Kolumnis dan cerpenis. Mengajar creative writing, dengan beberapa karyanya terbit di bawah Kelompok Penerbit Kompas Gramedia.


Halaman:

Komentar