Kapolda dan Anggota DPR Turun Langsung Jenguk Nenek Korban Keroyok Penambang Ilegal

- Minggu, 18 Januari 2026 | 16:20 WIB
Kapolda dan Anggota DPR Turun Langsung Jenguk Nenek Korban Keroyok Penambang Ilegal

Di kediamannya yang sederhana di Nagari Padang Mentinggi, Rao, Pasaman, Nenek Saudah (67) menerima kunjungan yang tak biasa. Irjen Pol. Gatot Tri Suryana, sang Kapolda Sumatera Barat, datang bersama Andre Rosiade, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI. Kunjungan ini adalah respons langsung atas peristiwa memilukan yang menimpa nenek tersebut: ia dikeroyok karena berani menolak aktivitas tambang ilegal di wilayahnya.

Menurut sejumlah saksi, kehadiran mereka Minggu (18/1/2026) itu dimaknai sebagai bentuk kehadiran negara. Sebuah pernyataan bahwa warga, apalagi yang sudah sepuh, tak boleh dibungkam dengan kekerasan hanya karena mempertahankan lingkungan hidupnya.

Rombongan yang datang pun terbilang lengkap. Turut hadir Wakil Ketua DPRD Sumbar Evi Yandri Rajo Budiman, Bupati Pasaman Welly Suhery, beserta Wakil Bupati Parulian Dalimunte. Tak ketinggalan, Kapolres Pasaman AKBP Muhammad Agus Hidayat dan sejumlah pejabat daerah lainnya memadati rumah itu, menunjukkan perhatian serius terhadap kasus ini.

Di tengah pertemuan, Andre Rosiade langsung memberikan penguatan moril. Bukan hanya kepada Nenek Saudah, tapi juga kepada putranya, Asparuddin.

"Negara hadir dan tidak akan membiarkan kekerasan terhadap warga yang menolak tambang ilegal. Nenek tidak sendirian," tegas Andre, suaranya lantang menembus keheningan.

Merespon hal itu, Kapolda Gatot Tri Suryana tak mau menunggu. Ia segera menginstruksikan pengamanan ekstra di sekitar kediaman korban. Perintahnya jelas dan tegas kepada Kapolres setempat.

"Kami siap mengawal keamanan Nenek Saudah. Saya perintahkan satu personel Bhabinkamtibmas berjaga setiap hari di rumah ini," ujar Irjen Gatot.

Di sisi lain, ia juga menekankan soal pemulihan. Baik fisik maupun psikis nenek itu harus menjadi prioritas. "Saya minta Nenek dibikin senang, dibikin nyaman. Kalau ada yang mengganggu, laporkan langsung," katanya. Gatot bahkan menjamin, jika diperlukan, Nenek Saudah akan dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara di Padang untuk perawatan yang lebih maksimal.

Lalu, bagaimana dengan penegakan hukumnya? Gatot mengungkapkan, dari empat terduga pelaku, satu sudah diciduk. Tiga lainnya masih buron. "Kami tidak akan berhenti. Proses hukum akan berjalan sampai tuntas," janjinya, sambil meminta koordinasi intensif dengan Kejaksaan Negeri Pasaman.

Bupati Pasaman, Welly Suhery, yang hadir di tempat, mengapresiasi langkah cepat ini. Ia merasa lega dengan perhatian dari pusat dan provinsi. "Kasus ini harus diusut tuntas agar menjadi pelajaran," ucapnya, berharap insiden serupa tak terulang di tanah Pasaman.

Sementara itu, Asparuddin, sang anak, tak bisa menyembunyikan harunya. "Kami sangat berterima kasih. Orang tua kami hanya ingin mempertahankan lingkungan. Kami mohon keadilan ditegakkan," katanya dengan suara bergetar.

Sebelum mengakhiri kunjungan, Andre Rosiade kembali menenangkan keluarga. Ia memastikan Nenek Saudah bisa fokus pada penyembuhan tanpa rasa takut. Tak lupa, bantuan untuk kebutuhan pengobatan dan sehari-hari juga diserahkan.

"Nenek fokus saja sembuh. Negara hadir dan akan melindungi," pungkas Andre, menutup pertemuan yang penuh dengan nada perlindungan dan janji keadilan itu.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar