Sudah hampir dua bulan berlalu, tapi dampak bencana di Aceh Tengah masih terasa sangat berat. Tepatnya sejak 26 November tahun lalu, banjir bandang dan tanah longsor menerjang. Sampai hari ini, Kamis (15/1), akses ke dua puluh empat desa di kabupaten itu masih terputus sama sekali. Mereka terisolasi, terkurung oleh jalan yang hancur dan jembatan yang putus.
Data terbaru dari Posko Penanganan Bencana Banjir dan Longsor Aceh memang memperlihatkan situasi yang suram. Desa-desa yang terkepung itu tersebar di lima kecamatan: Bintang, Ketol, Silih Nara, Rusip Antara, dan Linge.
Juru Bicara posko, Murthalamuddin, menjelaskan rinciannya.
Di Kecamatan Bintang, satu desa bernama Serule masih terblokir. Sekitar 582 jiwa terdampar di sana. Badan jalan tertimbun material longsor, membuat kendaraan apa pun roda dua maupun roda empat tak bisa lewat.
Namun begitu, wilayah terparah justru ada di Kecamatan Ketol. Di sini, sembilan desa masih terkurung. "Wilayah di sana terisolir disebabkan jembatan putus serta longsor yang menutup badan jalan," ujar Murthalamuddin.
Desa-desa itu adalah Bergang, Karang Ampar, Pantan Reduk, Serempah, Bah, Bintang Pepara, Buge Ara, Kekuyang, dan Burlah. Total penduduk yang terdampak mencapai hampir 5.000 orang. Ada sedikit titik terang: akses roda dua mulai bisa merangkak masuk ke desa Serempah dan Bah, meski untuk truk atau mobil tetap belum memungkinkan.
Lalu, bagaimana dengan kecamatan lain?
Artikel Terkait
Anyaman Sabut Kelapa Karya Warga Binaan Lapas Cirebon Tembus Pasar Eropa
Pasukan NATO Bergerak ke Greenland, Trump Kian Serius Kuasai Arktik
Empat Terdakwa Kerusuhan Agustus 2025 Dituntut 10 Bulan hingga Satu Tahun Penjara
Kapolda Riau Serukan Generasi Digital Jadi Suara Gajah dan Hutan