Pernyataannya ditutup dengan cacian keras, menyebut pihak selatan sebagai "sekelompok preman dan sampah". Bahasa yang cukup kasar, bahkan untuk standar retorika Korut sekalipun.
Lantas, apa maksud di balik semua ini? Menurut para pengamat, pernyataan Kim Yo Jong justru mengisyaratkan keinginan Pyongyang untuk tidak menjadikan insiden ini sebagai konflik militer terbuka. Hong Min, analis dari Institut Unifikasi Nasional Korea, memberi penilaian.
Jadi, lebih ke arah tekanan diplomatik, bukan ancaman tembak-menembak. Tapi tetap saja, ini menambah daftar panjang ketegangan di semenanjung.
Menariknya, insiden drone ini muncul di saat yang sensitif. Mantan Presiden Korsel, Yoon Suk Yeol, sedang menghadapi persidangan terkait tuduhan bahwa dia pernah secara ilegal memerintahkan operasi drone. Tujuannya diduga untuk memancing reaksi Pyongyang dan dijadikan alasan untuk mendeklarasikan darurat militer sebuah upaya yang akhirnya berujung pada pemakzulannya April tahun lalu.
Waktu kejadiannya yang berdekatan memang mengundang banyak tanya. Kebetulan? Atau ada kaitannya? Yang pasti, udara di perbatasan dua Korea kembali terasa pengap oleh saling tuduh dan ancaman.
Artikel Terkait
Truk Angkut Limbah Besi Tabrak 8 Kendaraan di Bekasi, Diduga Gagal Rem
Polres Pelabuhan Tanjungperak Gelar Patroli Cipkon, Kawasan Rawan Aman Kondusif
Jaksa Tuntut Eks Petinggi Pertamina 6,5 Tahun Penjara dalam Kasus Korupsi LNG
MK Gelar Purnabakti Hakim Anwar Usman, Sambut Dua Hakim Konstitusi Baru