Ketegangan antara Washington dan Tehran kembali memanas. Kali ini, pemicunya adalah gelombang protes besar-besaran di dalam Iran. Presiden Donald Trump tak ragu menyoroti situasi itu, dengan peringatan keras agar Iran tidak menembaki para demonstran yang menentang pemerintahannya.
Di sisi lain, respons dari Tehran datang dengan nada yang tak kalah keras. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, balik memperingatkan bahwa militer AS dan Israel akan berubah menjadi "sasaran yang sah" jika Amerika benar-benar melancarkan serangan. Ancaman Trump, rupanya, ditanggapi dengan ancaman balik.
"Matilah Amerika!"
Seruan Ghalibaf itu bergema di depan para anggota parlemen, mengutip laporan yang beredar akhir pekan lalu. Suasana di ibu kota Iran digambarkan tegang, sementara dari luar negeri, banyak yang cemas. Kekhawatiran terbesar adalah bahwa pemadaman informasi yang terjadi bisa membuka jalan bagi tindakan represif dari kelompok garis keras di tubuh aparat keamanan Iran.
Mereka khawatir penindasan bisa berujung pada pertumpahan darah, meski sudah ada peringatan terbuka dari Trump yang menyatakan kesiapannya untuk bertindak membela demonstran damai.
Sebelumnya, Trump memang secara terbuka menyatakan dukungan bagi para pengunjuk rasa. Lewat sebuah pesan yang dikutip beberapa media besar, ia menulis, "Iran sedang mengincar kebebasan, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!!!"
Nada itu tentu bukan sekadar retorika kosong. Menurut sejumlah pejabat AS yang enggan disebut namanya, Trump memang telah diberikan beberapa opsi militer terkait Iran. Meski begitu, keputusan akhirnya sendiri konon belum diambil.
Peringatan juga datang dari Departemen Luar Negeri AS, secara terpisah. Pesannya singkat tapi jelas: "Jangan bermain-main dengan Presiden Trump. Ketika dia mengatakan akan melakukan sesuatu, dia bersungguh-sungguh."
Jadi, situasinya sekarang seperti bara dalam sekam. Ancaman dan peringatan saling bersahutan, sementara dunia menunggu langkah selanjutnya dari kedua pihak yang sama-sama keras kepala ini.
Artikel Terkait
Mantan Preman Terminal Semarang Kini Jadi Perwira Kopassus, Letkol Untung Pranoto Buktikan Hidup Bisa Berubah
KPK Ungkap Tarif Ilegal Percepatan Izin Tinggal WNA Capai Rp1,5 Juta per Orang, Libatkan Mantan Wamen Imipas
Buronan AS 15 Tahun Kasus Pelecehan Seksual Ditangkap di Bunker Sawangan, Depok
Pria di Lampung Selatan Nekat Tusuk Kekasih 12 Kali karena Tak Diizinkan Menginap