“Visi dan kepemimpinan Chen telah mengubah Prince Group menjadi grup bisnis terkemuka di Kamboja yang mematuhi standar internasional,” begitu klaim perusahaan miliknya, Cambodian Prince Group, di situs mereka. Mereka menggambarkannya sebagai pengusaha terhormat dan filantropis terkenal.
Kenyataannya? Jauh berbeda. Menurut BBC, Departemen Kehakiman AS mendakwa Chen karena menjalankan jaringan penipuan dari Kamboja. Skemanya berhasil mencuri mata uang kripto senilai miliaran dolar dari korbannya.
Bicara angka, kerugiannya fantastis. Pusat-pusat penipuan seperti yang diduga dikendalikan Chen telah menjamur di Asia Tenggara. Mereka merampas uang korban dengan iming-iming investasi palsu. Perkiraan dari Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan menyebut, pada 2023 saja, korban penipuan global rugi antara 18 hingga 37 miliar dolar AS.
Dan untuk Chen, penyitaan asetnya pun mencetak rekor. Departemen Keuangan AS menyita bitcoin senilai 14 miliar dolar AS, atau sekitar Rp 232 triliun. Penyitaan ini disebut-sebut sebagai yang terbesar dalam sejarah terkait mata uang kripto.
Artikel Terkait
PBNU Dukung Larangan Vape Jika Terbukti Jadi Alat Peredaran Narkoba
Bea Cukai dan Pajak Segel Empat Kapal Asing di Pantai Mutiara Diduga Selewengkan Fasilitas
Banyuwangi Catat Inflasi Terendah di Maret 2026 Meski Ada Tekanan Ramadan
WFH Aparatur Pemerintah: Disiplin dan Digitalisasi Kunci Jaga Kualitas Pelayanan Publik