Di sisi lain, pemulihan pascabencana sejatinya adalah proses panjang. Ini bukan cuma soal membangun kembali rumah dan jalan yang rusak. Tapi juga kesempatan untuk membangun ketahanan di berbagai aspek sosial, ekonomi, infrastruktur agar masyarakat lebih siap menghadapi ancaman di masa depan. Proses ini, seperti digambarkan dalam berbagai literatur, menawarkan peluang untuk bangkit lebih kuat.
Harapan dan kepercayaan adalah modal sosial yang tak ternilai harganya pasca sebuah musibah. Peran pemimpin adalah untuk menumbuhkan dan menjaga kedua hal itu. Kepemimpinan yang empatik, yang didasari rasa percaya, terbukti bisa meningkatkan resiliensi atau daya tahan masyarakat. Mereka jadi yakin bahwa dukungan dan bantuan akan terus mengalir.
Lalu, bagaimana semua komitmen ini diwujudkan? Di lapangan, pemulihan memerlukan aksi nyata yang terkoordinasi: komunikasi, kolaborasi, dan koordinasi atau biasa disebut 3K. Pembentukan Satgas Pemulihan Bencana oleh DPR RI di Sumatera dan Aceh adalah salah satu upaya memperkuat koordinasi lintas lembaga. Kehadiran presiden untuk mengecek langsung pembangunan hunian sementara (huntara) juga bagian dari pengawalan proses ini.
Intinya, ini adalah upaya kolektif. Negara memberikan arahan dan legitimasi, sementara masyarakat adalah aktor utamanya. Kepemimpinan kolaboratif adalah kuncinya.
Oleh karena itu, komitmen yang sudah ditunjukkan di level tertinggi harus segera diterjemahkan menjadi aksi yang lebih cepat dan berkelanjutan. Distribusi bantuan harus dipercepat, program pemulihan harus dipastikan terus jalan. Dengan sinergi yang kuat antara negara dan masyarakat, pemulihan tidak akan berhenti pada rekonstruksi fisik belaka. Tapi yang lebih penting: membangun ketangguhan sosial sebagai fondasi untuk bangkit bersama, lebih kuat dari sebelumnya.
Muhamad Hidayat. Akademisi dan Relawan Kemanusiaan, Pakar Komunikasi Bencana dan Krisis.
Artikel Terkait
KPK Tetapkan Gus Yaqut Tersangka, Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024 Tembus Rp39 Juta per Jamaah
Trump Klaim Hanya Moral Pribadi yang Bisa Menghentikannya, Bukan Hukum Internasional
Trump Tegaskan Ambisi Greenland: Dengan Cara Mudah, Atau Sulit
Guterres Murka, Rusia Hantam Infrastruktur Vital Ukraina di Tengah Beku