Malam pergantian tahun biasanya diisi dengan perayaan. Tapi tahun ini, Presiden Prabowo memilih untuk berada di tengah lumpur dan duka, mengunjungi pengungsi korban banjir dan longsor di Tapanuli Selatan dan Aceh Tamiang. Kehadirannya di saat seperti ini bukan cuma sekadar seremoni. Lebih dari itu, ini adalah pernyataan nyata bahwa negara tak absen di kala warganya paling membutuhkan.
Di tengah proses pemulihan yang masih berjalan bahkan bisa dibilang belum maksimal kehadiran seorang pemimpin membawa pesan solidaritas yang kuat. Ia menjadi sumber harapan, pengingat bahwa kita tidak berjuang sendirian.
Menurut sejumlah saksi, suasana di posko pengungsian langsung berubah saat Presiden tiba. Di Desa Batu Hula, Batang Toru, Prabowo menyampaikan semangatnya langsung kepada warga.
Ucapannya sederhana, tapi tepat menyentuh apa yang dibutuhkan saat ini: kebersamaan dan kegotongroyongan.
Secara teoritis, langkah seperti ini adalah wujud kepemimpinan transformasional. Ia tak cuma datang sebagai pengambil keputusan dari jauh, melainkan jadi figur yang menyatukan semangat. Situasi pascabencana yang ruwet dan dinamis memang menuntut pemimpin untuk adaptif. Mereka harus bisa mengobservasi pola, konflik, dan kepentingan yang muncul dari dekat, seperti yang pernah diungkapkan Heifetz (1994).
Nah, di sinilah pentingnya karakteristik pemimpin krisis: kemampuan beradaptasi cepat, komunikasi yang efektif, dan keterbukaan untuk berkolaborasi. Komunikasi dan kolaborasi itu krusial banget di masa-masa genting.
Artikel Terkait
Lima Lembaga Intelijen yang Membentuk Peta Kekuatan Global
TAUD Ungkap Dugaan Serangan Terorganisir Melibatkan 16 Orang terhadap Andrie Yunus
Dolar AS Melemah Didorong Kabar Perundingan Damai Israel-Lebanon
Bentrok di Halmahera Tengah Dipicu Hoaks, Bukan Konflik SARA