Malam pergantian tahun biasanya diisi dengan perayaan. Tapi tahun ini, Presiden Prabowo memilih untuk berada di tengah lumpur dan duka, mengunjungi pengungsi korban banjir dan longsor di Tapanuli Selatan dan Aceh Tamiang. Kehadirannya di saat seperti ini bukan cuma sekadar seremoni. Lebih dari itu, ini adalah pernyataan nyata bahwa negara tak absen di kala warganya paling membutuhkan.
Di tengah proses pemulihan yang masih berjalan bahkan bisa dibilang belum maksimal kehadiran seorang pemimpin membawa pesan solidaritas yang kuat. Ia menjadi sumber harapan, pengingat bahwa kita tidak berjuang sendirian.
Menurut sejumlah saksi, suasana di posko pengungsian langsung berubah saat Presiden tiba. Di Desa Batu Hula, Batang Toru, Prabowo menyampaikan semangatnya langsung kepada warga.
Ucapannya sederhana, tapi tepat menyentuh apa yang dibutuhkan saat ini: kebersamaan dan kegotongroyongan.
Secara teoritis, langkah seperti ini adalah wujud kepemimpinan transformasional. Ia tak cuma datang sebagai pengambil keputusan dari jauh, melainkan jadi figur yang menyatukan semangat. Situasi pascabencana yang ruwet dan dinamis memang menuntut pemimpin untuk adaptif. Mereka harus bisa mengobservasi pola, konflik, dan kepentingan yang muncul dari dekat, seperti yang pernah diungkapkan Heifetz (1994).
Nah, di sinilah pentingnya karakteristik pemimpin krisis: kemampuan beradaptasi cepat, komunikasi yang efektif, dan keterbukaan untuk berkolaborasi. Komunikasi dan kolaborasi itu krusial banget di masa-masa genting.
Artikel Terkait
BEI Ungkap 9 Emiten dengan Kepemilikan Saham Terlalu Terkonsentrasi
Presiden Prabowo Dikawal Enam Jet Tempur dalam Penerbangan ke Magelang, Sambut HUT ke-80 TNI AU
Pemerintah Arahkan Motor Listrik untuk Pasar Domestik, Motor BBM Digenjot Ekspor
Anggota DPR Ingatkan Ulang Ancaman Kolaps BPJS Kesehatan pada 2026