Hari kelima gelombang protes di Iran berlangsung mencekam. Kerusuhan yang dipicu melambungnya harga kebutuhan pokok itu, sayangnya, sudah memakan korban jiwa. Laporan dari berbagai sumber menyebutkan, setidaknya ada enam orang tewas dalam bentrokan di sejumlah kota.
Menurut kantor berita semi-resmi Fars dan organisasi HAM Hengaw, dua korban jatuh di Lordegan. Tiga lainnya di Azna, dan satu lagi di Kouhdasht. Namun, detail siapa sebenarnya yang tewas apakah warga atau aparat masih simpang siur. Situasinya benar-benar tidak jelas.
Di sisi lain, video yang beredar luas di media sosial sejak Kamis lalu memperlihatkan situasi yang kacau. Mobil-mobil terbakar, kerumunan massa, dan ketegangan yang nyaris bisa dirasakan melalui layar. Unjuk rasa ini rupanya tak cuma soal ekonomi lagi. Suara-suara sumbang menuntut perubahan kekuasaan mulai terdengar, bahkan ada yang secara terang-terangan menginginkan kembalinya sistem monarki.
Pemicu utamanya jelas: nilai tukar mata uang Iran yang anjlok. Itu yang mendorong orang turun ke jalan. Dan pada hari kelima ini, laporan tentang kerusuhan justru makin banyak berdatangan dari berbagai penjuru.
Artikel Terkait
IHSG Menguat Didorong Sektor Migas, Harga Minyak Tembus USD110 per Barel
Inayah Wahid, Putri Gus Dur, Telah Menikah dengan Pengasuh Pesantren Sumenep
Inchcape Siap Hadirkan Merek Mobil Baru di Indonesia
Polisi Tangkap Pelaku Penjualan Motor Bodong dengan Modus Palsukan Dokumen di Mampang