Mengapa Kita Lebih Mudah Berharap Daripada Bersyukur?

- Rabu, 07 Januari 2026 | 22:00 WIB
Mengapa Kita Lebih Mudah Berharap Daripada Bersyukur?

"Tahun depan jangan nangis lagi ya."

"I hope I getting better next year."

"2026 please be nice to me."

Ungkapan-ungkapan seperti ini sepertinya selalu muncul. Menghiasi linimasa media sosial, terutama saat pergantian bulan atau tahun baru mendekat. Entah di TikTok, Instagram, atau platform lainnya. Polanya nyaris sama. Tapi pernahkah kita benar-benar berhenti dan bertanya, mengapa kita lebih mudah melontarkan harapan ke depan daripada menengok ke belakang? Mengapa rasa syukur atas perjalanan yang sudah ditempuh justru terasa lebih berat?

Namun begitu, fenomena ini sebenarnya wajar. Siapa sih yang nggak mau jadi lebih baik? Hampir semua orang punya keinginan itu. Tapi menarik untuk dikulik, apa yang sebenarnya terjadi di balik kecenderungan kita untuk selalu memandang ke depan dan seolah ingin memulai dari nol?

Mengapa Otak Kita Suka "Mulai dari Nol"

Jawabannya mungkin ada pada apa yang disebut Fresh Start Effect. Beberapa peneliti dari University of Pennsylvania, seperti Hengchen Dai, pernah mengkaji hal ini. Intinya, momen-momen temporal seperti tahun baru, ulang tahun, atau bahkan awal minggu memberi sinyal psikologis yang kuat pada otak kita. Seolah-olah kita diberi kanvas baru yang masih bersih.

Dalam penelitiannya, Dai menulis:

"Pergantian tahun menciptakan jarak psikologis antara diri kita yang lama dan diri kita yang baru. Dari sinilah muncul keyakinan bahwa masa depan harus lebih baik."

Jadi, wajar saja kalau kita memaknai tahun baru sebagai titik reset. Sebuah kesempatan mental untuk mengubah halaman dan menulis kisah yang berbeda.

Harapan: Bahan Bakar untuk Bertahan

Di sisi lain, berharap itu manusiawi. Bahkan, menurut teori, harapan adalah mekanisme bertahan hidup secara emosional. Psikolog C.R. Snyder lewat Hope Theory-nya bilang, manusia butuh harapan agar tetap bisa melangkah. Harapan membuat kita merasa masih memegang kendali, punya tujuan yang mau dituju, dan punya alasan untuk bangun dari tempat tidur setiap pagi.

Pendapat serupa datang dari ranah lokal. Psikolog klinis Indonesia, Anjasmariani, M.Psi, pernah menyebutkan bahwa memandang masa depan dengan optimis adalah bentuk self-healing yang sederhana.

"Bagi banyak orang, berbicara tentang masa depan yang lebih baik adalah cara untuk menguatkan diri," jelasnya.

Jadi, harapan itu seperti bantal pelindung dari kecemasan yang kadang datang menerpa.

Drama Panggung Bernama Media Sosial


Halaman:

Komentar