Mengapa Kita Lebih Mudah Berharap Daripada Bersyukur?

- Rabu, 07 Januari 2026 | 22:00 WIB
Mengapa Kita Lebih Mudah Berharap Daripada Bersyukur?

Tapi, kita juga nggak bisa menutup mata. Lingkungan di mana kita mengekspresikan harapan itu punya pengaruh besar. Coba lihat media sosial. Semuanya serba terkuras, dipoles, dan kerap hanya menampilkan puncak-puncak kebahagiaan: pencapaian karier, hubungan yang manis, liburan mewah. Konten seperti ini, mau tidak mau, mempengaruhi pola pikir.

Alhasil, muncullah rasa insecure atau keinginan untuk ikut menunjukkan bahwa kita juga "baik-baik saja" dan penuh harapan. Teori Impression Management dari sosiolog Erving Goffman cocok menggambarkan ini. Di media sosial, kita seperti aktor di atas panggung. Kita pilih kostum terbaik, senyum terpoles, dan narasi yang optimis.

Peneliti media sosial Dian Paramita memberi catatan menarik:

"Algoritma media sosial lebih menyukai konten yang singkat, optimistik, dan relate. Itulah mengapa postingan harapan tahun baru lebih populer dibanding refleksi panjang tentang hidup."

Singkatnya, platform mendorong kita untuk berharap, bukan merenung.

Lalu, Ke Mana Larinya Rasa Syukur?

Nah, ini pertanyaan besarnya. Kalau berharap itu mudah dan didorong banyak faktor, mengapa refleksi dan bersyukur justru jarang? Kenapa video kilas balik penuh perenungan kalah pamor dengan video motivasi 15 detik?

Jawabannya kompleks. Pertama, ada yang namanya Hedonic Adaptation. Manusia cepat banget terbiasa dengan hal baik. Kebahagiaan dirasakan sesaat, sementara kekurangan dan keinginan justru lebih melekat di memori. Kedua, refleksi seringkali berarti membuka luka lama. Banyak orang memilih menghindar istilah kerennya avoidance coping karena tidak ingin kembali merasakan sakitnya. Ketiga, budaya kita sekarang mendewakan produktivitas dan kemajuan linear. Kita didorong untuk selalu "lebih baik", sehingga berhenti sejenak untuk menghargai proses dianggap sebagai kemunduran.

Menerima Diri, Bukan Hanya Memperbaiki Diri

Memang, hidup ini nggak mudah. Kegagalan, kesedihan, dan kelelahan bisa membuat kita lupa untuk menghargai betapa tangguhnya diri kita sendiri. Filosofi Stoisisme mengajarkan bahwa masa lalu bukan untuk dilupakan, tapi diterima sebagai bagian dari cerita kita. Sementara Eksistensialisme melihat manusia terjepit antara realitas yang pahit dan harapan yang memberi makna.

Intinya, semua perasaan itu valid. Nggak ada yang salah dengan berharap tahun depan lebih cerah. Tapi, mengabaikan ruang untuk bersyukur dan merenung juga bukan pola yang sehat untuk jangka panjang.

Penutup: Berharap Sambil Menengok ke Belakang

Fenomena ucapan "semoga tahun depan lebih baik" pada dasarnya adalah bukti resilience manusia. Kita bukan cuma ingin bertahan, tapi juga percaya bahwa selalu ada peluang untuk membaik.

Tapi, mungkin sebelum kita larut dalam daftar harapan untuk 2026, ada baiknya kita berhenti sebentar. Tarik napas. Lihat ke belakang. Akui pada diri sendiri, "Hei, tahun ini berat, tapi aku sudah melewatinya." Bersyukur untuk pertumbuhan sekecil apapun, dan untuk diri yang masih tetap berdiri.

Karena pada akhirnya, yang kita butuhkan mungkin bukan hanya sekadar harapan. Melainkan pengakuan bahwa kita sudah berjuang sejauh ini dan komitmen untuk terus maju, dengan segala ketidaksempurnaan kita.


Halaman:

Komentar