Kyai Palsu dan Ekosistem Ketakutan yang Melahirkan Mereka

- Rabu, 21 Januari 2026 | 15:40 WIB
Kyai Palsu dan Ekosistem Ketakutan yang Melahirkan Mereka

Kasus kyai palsu di Jawa itu bukan hal baru. Ia berulang, sistemik, dan yang paling mengkhawatirkan sering dibiarkan begitu saja. Polanya selalu mirip: otoritas dibangun bukan dari ilmu yang mumpuni, tapi lewat simbol, ketakutan, dan pengultusan buta. Lihat saja Kanjeng Taat Pribadi yang sempat jadi fenomena nasional, atau figur lokal macam Mama Gufron. Mereka punya pola yang nyaris sama.

Nah, di sini masalah sebenarnya. Bukan cuma soal siapa pelakunya, tapi lebih pada pertanyaan: kenapa mereka selalu punya pengikut yang begitu banyak dan loyal?

Otoritas yang Dibangun Tanpa Metode

Dalam tradisi Islam, otoritas itu lahir dari metode keilmuan yang ketat: ada sanad, disiplin belajar bertahun-tahun, dan kemampuan yang bisa diuji. Seperti kata Imam Malik, “Ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama.”

Tapi di Jawa, prinsip itu kerap dibalik. Gelar seperti kyai, mama, atau gus sering jadi kartu sakti yang kebal kritik. Begitu gelar itu melekat, pertanyaan soal dalil atau metodologi langsung dianggap kurang ajar. Ambil contoh kasus Mama Gufron. Yang ramai bukan debat keilmuannya, tapi justru soal loyalitas buta pada figur. Agama pun jadi sekadar kepercayaan personal, bukan hasil penalaran yang sehat.

Mistisisme: Komoditas yang Selalu Laku

Kyai palsu jarang sekali menjual fikih rumit. Mereka lebih suka menjual kepastian. Jalan pintas spiritual, klaim punya ilmu khusus, atau pertunjukan ‘karomah’ yang sengaja dipamerkan. Ini bukan kebetulan. Mistisisme memang laku keras di tengah masyarakat yang dilanda tekanan ekonomi dan rasa takut akan masa depan.

Imam al-Ghazali sudah mengingatkan soal ini sejak lama. Katanya, “Setan membuka pintu ibadah agar manusia lupa pada ilmu.” Ibadah tanpa dasar ilmu yang kuat, ujung-ujungnya bisa berubah jadi kultus. Dan kultus selalu butuh figur pusat untuk disembah.

Feodalisme di Lingkaran Otoritas Agama

Ada persoalan lain yang jarang dibongkar: feodalisme dalam otoritas keagamaan kita. Keturunan sering disamakan begitu saja dengan kapasitas keilmuan. Seorang ‘gus’ bisa bicara apa saja dan tetap dipercaya. Sanad keilmuan cuma jadi pelengkap, bukan syarat mutlak.

Padahal, Ibn Sirin sudah bilang, “Dahulu orang tidak bertanya tentang sanad. Ketika fitnah muncul, barulah sanad diperiksa.” Fitnah itu sekarang nyata ada di depan mata. Tapi mau memeriksa sanad? Wah, itu masih dianggap tabu.

Mengapa Orang-Orang Mengikut?


Halaman:

Komentar