Kyai Palsu dan Ekosistem Ketakutan yang Melahirkan Mereka

- Rabu, 21 Januari 2026 | 15:40 WIB
Kyai Palsu dan Ekosistem Ketakutan yang Melahirkan Mereka

Menyebut pengikut mereka bodoh itu analisis yang terlalu gampang. Banyak dari pengikut ini justru orang-orang yang merasa terpinggirkan, kehilangan pegangan sosial, dan haus akan identitas. Tokoh karismatik datang, menawarkan rasa dipilih dan kepastian. Pada titik itu, kritik dari luar bukan lagi dianggap sebagai koreksi, melainkan ancaman yang harus dilawan.

Seperti diingatkan Ibnu Taimiyah, “Kesalahan seorang yang diikuti banyak orang lebih berbahaya daripada kesalahan orang awam.” Bahayanya bukan cuma pada satu kesalahan, tapi pada bagaimana kesesatan itu direproduksi secara massal.

Reaksi yang Selalu Terlambat

Hampir di setiap kasus besar, polanya sama: pembiaran. Selama ajarannya masih dibungkus rapi dalam acara pengajian atau ritual tradisi, negara dan ormas-ormas besar cenderung diam. Mereka baru bergerak kalau sudah terjadi kegaduhan atau keributan publik. Padahal tanda-tandanya sudah kelihatan dari awal: ada baiat tertutup, klaim kebenaran tunggal, pengultusan berlebihan, dan larangan untuk berpikir kritis.

Alhasil, figur seperti Mama Gufron baru ramai diperdebatkan setelah pengaruhnya mengakar dan sulit dicabut. Bukan ketika ia masih bisa dikoreksi dengan lembut.

Ekosistem yang Memproduksi Masalah

Jadi, kyai palsu ini bukan anomali atau kecelakaan sejarah. Mereka adalah produk dari sebuah ekosistem yang bermasalah. Ekosistem yang terlalu memuja simbol, mematikan suara kritis, menganggap patuh buta sebagai bukti iman, dan menyangka keraguan sebagai dosa.

Imam Syafi’i pernah berpesan bijak, “Pendapatku benar tapi mungkin salah, pendapat orang lain salah tapi mungkin benar.” Kalimat semacam ini nyaris tak punya tempat dalam kultur kultus yang menuntut kepatuhan mutlak.

Penutup

Pada akhirnya, Islam tidak akan runtuh karena pertanyaan. Justru ia bisa runtuh ketika pertanyaan dilarang. Selama masyarakat kita lebih sibuk menjaga perasaan seorang figur ketimbang menjaga metode berpikir yang sehat, maka kyai palsu akan terus bermunculan. Mereka hanya akan berganti nama, gelar, dan panggung.

Yang perlu kita bongkar bukan cuma satu dua tokoh. Tapi lebih pada kenyamanan kolektif kita terhadap ketidaktahuan itu sendiri.


Halaman:

Komentar