JAKARTA – Angkanya sungguh mengkhawatirkan. Setiap tahun, Indonesia mencatat lebih dari satu juta kasus tuberkulosis (TB). Fakta itu menempatkan kita di antara negara-negara dengan beban penyakit ini paling berat di dunia. Tak heran, pemerintah kini mendorong langkah eliminasi TB sebagai bagian dari keadaan darurat nasional di bidang kesehatan.
Data memilukan ini kembali diungkap dalam Temu Media Hari Tuberkulosis Sedunia 2026. Di forum itu, Wakil Menteri Kesehatan, dr Benjamin P Octavianus, tak bisa menyembunyikan keprihatinannya. Menurutnya, penularan TB di Tanah Air masih berjalan dengan kecepatan yang sangat mencemaskan.
“Tuberkulosis masih menjadi tantangan besar. Ini bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan faktor sosial, ekonomi, gizi, dan lingkungan,” ujar Benjamin dalam keterangan resminya, Selasa (7/4/2026).
Bayangkan, dalam hitungan menit saja, situasinya sudah berbeda. Setiap menit, dua orang tertular. Dan setiap empat menit, satu nyawa melayang karena TB di Indonesia. Sungguh, deretan angka yang tak boleh kita anggap biasa.
Kondisi ini jelas menuntut penanganan yang lebih serius dan menyeluruh. Pemerintah pun bergegas. Strategi dipercepat untuk menemukan kasus lebih awal dan memastikan pasien mendapat pengobatan yang tepat.
Langkah konkretnya? Deteksi dini digencarkan secara masif. Program Cek Kesehatan Gratis jadi andalan, dengan target menjangkau sekitar 130 juta orang pada tahun 2026. Harapannya sederhana: semakin banyak kasus yang ketahuan sejak dini, semakin cepat pengobatan dimulai. Risiko penularan pun bisa ditekan.
Namun begitu, menemukan pasien saja tidak cukup. Pelacakan kontak erat juga diperkuat. Tujuannya untuk menjaring orang-orang yang berpotensi terpapar, agar mereka segera diperiksa. Di sisi lain, terapi pencegahan TB juga diperluas bagi kelompok berisiko tinggi. Ini penting untuk menghentikan infeksi sebelum berkembang menjadi penyakit aktif.
Peran masyarakat, terutama kader kesehatan, dinilai krusial. Mereka yang paling dekat dengan warga, jadi ujung tombak yang tak tergantikan.
“Tidak ada waktu untuk menunda. Setiap kasus yang ditemukan dan diobati adalah langkah menyelamatkan nyawa,” tegas Benjamin.
Dukungan dari luar negeri pun terus mengalir. Dr. Setiawan Jati Laksono, perwakilan WHO Indonesia, menyebut kontribusi Indonesia pada beban TB global mencapai sekitar 10 persen. Angka itu sekaligus menunjukkan betapa pentingnya peran Indonesia dalam upaya pengendalian TB dunia.
Data tahun 2024 memperlihatkan betapa dahsyatnya dampak penyakit ini: sekitar 118.000 kematian akibat TB pada orang tanpa HIV. Belum lagi tambahan 8.100 kematian pada orang dengan HIV yang juga terjangkit TB.
“TB masih menjadi ancaman global. Ada kemajuan, tetapi belum cukup cepat. Komitmen politik dan pendanaan nasional sangat menentukan,” kata Setiawan.
WHO juga menyoroti sejumlah tantangan besar. Mulai dari kasus yang lolos dari diagnosis, munculnya TB yang kebal obat, hingga faktor risiko lain seperti kurang gizi, diabetes, dan kebiasaan merokok.
Meski tantangannya berat, harapan belum pupus. Inovasi di bidang kesehatan terus dikembangkan untuk mendukung pengendalian TB. Saat ini, lebih dari 100 alat diagnostik baru sedang dikembangkan di seluruh dunia. Tak ketinggalan, 29 obat baru dan 18 kandidat vaksin juga sedang dalam tahap pengembangan. Sebuah perlawanan global yang, semoga, membawa hasil nyata.
Artikel Terkait
IHSG Anjlok 4,2 Persen ke 5.594, Seluruh Sektor Saham Kompak Merah
12,7 Ton Sampah Diangkut dari Sungai Cisadane dalam Aksi Berskala Besar Peringati Hari Lingkungan Hidup
BCA Gaet Pelaku Pariwisata Singapura dan Malaysia untuk Perluas Pasar Mancanegara Desa Wisata Binaan
Pemerintah Dukung Penuh Proses Hukum KPK di Kasus Dugaan Korupsi Izin Tinggal WNA yang Seret Wamen Imigrasi