IHSG Menguat Didorong Sektor Migas, Harga Minyak Tembus USD110 per Barel

- Selasa, 07 April 2026 | 10:45 WIB
IHSG Menguat Didorong Sektor Migas, Harga Minyak Tembus USD110 per Barel

Pasar saham punya cerita sendiri di Selasa (7/4/2026) ini. Sektor minyak dan gas (migas) tampil mencolok, mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih tinggi. Pemicunya jelas: harga minyak dunia yang masih bertengger di atas level psikologis USD110 per barel.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, seperti biasa, jadi bumbu utamanya. Situasi itu membuat investor berani masuk ke saham-saham yang terkait langsung dengan komoditas energi.

Melihat papan perdagangan BEI pagi tadi, tepatnya pukul 10.26 WIB, beberapa emiten migas memang bersinar. Saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) melesat 6,15 persen ke posisi Rp3.970. Tak ketinggalan, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) juga naik 4,35 persen ke Rp5.400 per saham.

Performa positif juga ditunjukkan oleh raksasa seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang naik 1,88 persen. Di sisi lain, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) ikut merasakan imbas positif dengan kenaikan 2,26 persen. Sementara itu, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dan PT Elnusa Tbk (ELSA) masing-masing catat kenaikan 1,61 persen dan 0,70 persen.

Nah, soal prospek ke depan, banyak analis bilang harga minyak masih akan sangat rentan terhadap berita-berita utama. Apalagi situasi di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Sentimen inilah yang kemungkinan akan terus menggerakkan pasar dalam jangka pendek.

Priyanka Sachdeva, seorang analis pasar dari Phillip Nova, punya pandangan menarik. Menurutnya, dinamika harga minyak sekarang ini lebih banyak digerakkan oleh geopolitik, bukan lagi faktor fundamental supply-demand yang biasa.

“Harga minyak kini tidak lagi bergerak karena faktor pasokan dan permintaan, melainkan diperdagangkan mengikuti tenggat waktu dan potensi ledakan konflik,” ujarnya, seperti dikutip dari Dow Jones Newswires.

Dalam catatannya, Priyanka menyebutkan bahwa harga minyak masih bertahan kuat setelah penguatan pekan lalu. Investor, katanya, sedang menunggu-nunggu kejelasan soal tenggat waktu yang disebut-sebut ditetapkan oleh Presiden AS Donald Trump terkait konflik di kawasan tersebut.

“Bahkan kebijakan dominasi energi Washington belum mampu sepenuhnya menutup potensi kehilangan pasokan minyak dari Timur Tengah dalam jangka pendek,” tambahnya.

Ia juga melihat ada tekanan pada pasokan global yang mulai terbentuk, meski sentimen geopolitik masih mendominasi seluruh pergerakan.

Data perdagangan terbaru sepertinya membenarkan analisis itu. Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk bulan terdekat tercatat naik sekitar 2,3 persen ke level USD114,98 per barel. Sementara minyak Brent juga menguat 1,2 persen, mencapai USD111,06 per barel.

Jadi, buat investor, hari ini pasar saham lokal sedikit banyak diwarnai oleh gejolak yang terjadi ribuan kilometer jauhnya. Dan sepertinya, selama ketegangan masih ada, saham-saham migas akan tetap menjadi salah satu yang paling banyak diperbincangkan.

Ingat, keputusan jual beli saham adalah tanggung jawab penuh investor. Informasi ini hanya untuk gambaran situasi pasar.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar