VATICAN CITY Keputusan datang dari Menteri Luar Negeri Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, dan langsung mengguncang harapan Gedung Putih: Vatikan menolak bergabung dengan Board of Peace atau Dewan Perdamaian bentukan Presiden AS Donald Trump. Penolakan ini disampaikan langsung atas nama Paus Leo XIV. Reaksi dari Washington pun tak lama menyusul kekecewaan yang nyata.
Dewan yang awalnya digagas untuk menangani krisis di Jalur Gaza itu, dalam perkembangannya justru diperluas mandatnya oleh Trump. Kini, lembaga yang akan dia pimpin tanpa batas waktu itu juga dimaksudkan untuk mendamaikan berbagai konflik global lainnya. Perluasan inilah yang rupanya memicu keraguan banyak pihak.
Gedung Putih tak menyembunyikan rasa sesal. Melalui juru bicaranya, Karoline Leavitt, pemerintah AS menyatakan bahwa perdamaian seharusnya bisa melampaui sekat-sekat politik.
"Saya rasa perdamaian tidak seharusnya bersifat partisan, politis, atau kontroversial. Dan tentu saja, Pemerintah ingin semua yang diundang untuk bergabung," kata Leavitt, pada Kamis (19/2/2026).
"Ini adalah organisasi yang sah di mana terdapat puluhan negara anggota dari seluruh dunia. Kami kira itu adalah keputusan yang disayangkan," tambahnya.
Namun begitu, Vatikan bukanlah satu-satunya. Beberapa sekutu tradisional AS seperti Inggris, Prancis, dan Norwegia juga mengambil langkah serupa, memilih untuk tidak ikut serta. Menurut sejumlah diplomat yang enggan disebut namanya, ada kekhawatiran mendalam soal struktur dewan itu kepemimpinan Trump yang permanen, mandatnya yang terlalu luas, dan potensi tumpang tindih dengan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Di sisi lain, penolakan Paus Leo XIV ini cukup menarik perhatian. Beliau adalah paus pertama yang lahir di Amerika Serikat, dan perdamaian memang menjadi salah satu pilar utama kepemimpinannya. Undangan untuk bergabung telah dia terima bulan lalu. Tapi rupanya, bagi pemimpin tertinggi Katolik ini, PBB tetaplah institusi yang paling tepat menjadi poros penyelesaian konflik dunia.
Paus menegaskan kembali komitmennya pada hukum humaniter internasional. Bahkan, dalam berbagai kesempatan sebelumnya, beliau telah menyuarakan keprihatinan bahwa perang seakan kembali menjadi tren yang mencemaskan. Bagi Tahta Suci, jalan menuju perdamaian sejati harus melalui saluran-saluran yang sudah mapan dan diakui bersama bukan melalui struktur baru yang penuh tanda tanya.
Artikel Terkait
Mantan Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Divonis Seumur Hidup atas Tindakan Pemberontakan
Polisi Amankan Delapan Preman Parkir di Tanah Abang Usai Tarif Rp100 Ribu Viral
KKP Upayakan Ekspor Ikan Patin untuk Penuhi Kebutuhan Jemaah Haji di Arab Saudi
Gubernur DKI Ancam Cabut Izin Lapangan Padel yang Ganggu Warga