Sudah berhari-hari berlalu, tapi kehidupan warga Aceh Tamiang yang diterjang banjir bandang masih jauh dari kata normal. Persoalan paling mendasar dan mendesak saat ini adalah air bersih. Jangankan untuk mandi, sekadar buang air kecil pun mereka masih kesulitan.
“Kami masih sangat kesulitan mendapatkan air bersih, jangan kan untuk mandi, untuk cuci air kecil saja kesulitan,”
Begitu keluh Awal Sulistio, seorang warga Desa Menanggini di Kecamatan Karang Baru. Suaranya terdengar lelah saat dihubungi Selasa lalu. Memang, bantuan air bersih sudah mulai masuk ke beberapa titik. Namun faktanya, bagi sebagian besar korban, mandi masih jadi kemewahan yang tak terjangkau.
Keadaan mereka sungguh memprihatinkan. Coba bayangkan, pakaian yang melekat di badan saat banjir melanda adalah satu-satunya yang mereka miliki sekarang. Rumah-rumah hancur, harta benda lenyap terseret arus. Yang tersisa hanya rasa trauma dan ketidakpastian.
Di sisi lain, kebutuhan spesifik untuk kelompok rentan juga mendesak. Para pengungsi sangat membutuhkan pakaian bekas layak pakai untuk bayi dan anak-anak. Belum lagi perlengkapan lain seperti popok, susu, atau peralatan makan khusus balita. Ini bukan sekadar soal kenyamanan, tapi kesehatan.
Dan bicara soal kesehatan, kondisi itu mulai tampak. Menurut Awal, banyak korban yang mulai jatuh sakit pasca bencana. Demam, batuk, pilek, hingga gatal-gatal merebak. Lingkungan yang kotor dan minim air bersih jelas jadi pemicu utamanya.
“Kalau pasokan bahan makanan alhamdulillah sudah ada, sudah lancar,” ujarnya memberi secercah kabar baik. “Tapi kami belum mandi sejak bencana terjadi, air bersih sangat sulit sekali. Banyak rumah yang tidak bisa dibersihkan karena tidak ada sumber air.”
Data per Selasa, 6 Desember 2025, menggambarkan betapa besarnya musibah ini. Korban mengungsi mencapai lebih dari 262 ribu jiwa. Sedihnya, 57 orang dinyatakan meninggal dunia dan 22 lainnya masih hilang. Kerusakan properti pun masif: ribuan rumah rusak ringan hingga sedang, dan hampir 800 unit lainnya hanyut begitu saja. Angka-angka ini, sayangnya, masih mungkin bertambah.
Jadi, di balik genangan air yang mulai surut, ada krisis lain yang menggenang: krisis air bersih dan pemulihan kesehatan. Bantuan logistik mungkin sudah mengalir, tapi perjuangan warga Aceh Tamiang untuk kembali ke kehidupan sehari-hari masih sangat panjang.
Artikel Terkait
Israel Intersepsi 22 Kapal Bantuan Global Sumud Flotilla di Perairan Kreta, Komunikasi Armada Terputus
Mensos Gus Ipul Instruksikan Pendamping PKH di Madura Jaring Calon Siswa Sekolah Rakyat Tepat Sasaran
Polresta Serang Kota Musnahkan Lebih dari 17.000 Botol Miras Hasil Sitaan
Jerman Siap Hadapi Kemungkinan Pengurangan Pasukan AS di Tengah Ketegangan dengan Trump