Tamu Tak Diundang di Kampung Melayu: Surut Siang, Warga Waspada Banjir Malam

- Minggu, 07 Desember 2025 | 14:45 WIB
Tamu Tak Diundang di Kampung Melayu: Surut Siang, Warga Waspada Banjir Malam

Genangan air yang sempat menggenangi RT 11 di Kampung Melayu, Jatinegara, akhirnya mulai mengering. Minggu siang ini, suasana perlahan kembali normal. Warga yang tadi pagi masih sibuk mengangkat barang-barang, kini tampak duduk-duduk di teras, beristirahat sejenak usai beres-beres.

Pantauan di lokasi sekitar pukul satu siang menunjukkan, jalanan gang utama sudah bisa dilalui. Memang masih ada sisa-sisa becek dan kubangan di beberapa titik, tapi banjir yang merendam permukiman tadi pagi benar-benar sudah surut. Beberapa rumah masih memperlihatkan bekas-bekasnya: lantai yang basah, atau pintu yang masih kotor oleh cipratan lumpur.

Salah seorang warga, Arianti, mengaku sudah mulai membersihkan rumahnya. Menurut ceritanya, air mulai mengalir pergi sekitar pukul sepuluh pagi.

“Udah surut, tadi jam 10an tadi. Ini udah dipel segala macem,” ujarnya.

Bagi Arianti, kejadian seperti ini sepertinya sudah jadi menu rutin. Terutama di bulan Desember ini, banjir datang hampir setiap malam. Rumahnya yang cuma berjarak lima meter dari bantaran Sungai Ciliwung memang rawan. Permukaan tanahnya lebih rendah dari sungai, jadi saat air meluap, rumahnyalah yang pertama kebagian.

“Cuma Desember ini ya gitu, udah surut nih siang, nanti malam naik jam 12 jam 1 naik lagi. Tamu kagak diundang, kayak jelangkung dateng sendiri,” keluhnya sambil tertawa getir. Ketinggian air, katanya, bisa sampai 80 sentimeter. Tapi dia menganggap itu hal biasa. “Nggak (parah) kalau cuma sepinggang mah buat kita udah biasa,” tambahnya.

Di sisi lain, warga lain bernama Rehan punya pendapat soal penyebabnya. Pria 54 tahun itu menunjuk ke arah Sungai Ciliwung di samping rumahnya.

“Banjir di sini tuh gara-gara kalinya dangkal,” tegas Rehan.

Menurut pengamatannya, meski ada proses pengerukan, materialnya sering kali tidak diangkut. Cuma dibiarkan menumpuk di tepian. “Ada itu yang ngerukin, tapi kagak diambil, dibiarin aja di samping. Kadang ada orang yang nyari besi paku gitu. Nah kalau kayak gitu air datang yang tinggi,” jelasnya. Dasar sungai yang dangkal itulah, dalam pandangannya, yang membuat air mudah sekali meluap ke pemukiman.

Kini, sementara langit cerah, aktivitas warga kembali berjalan. Tapi semua tahu, ini hanya jeda sebentar. Malam nanti, sang “tamu tak diundang” mungkin akan datang lagi.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar